logo

Ngutang Untuk Bayar Utang, INDEF: Pemerintah Jokowi Ciptakan Defisit Keseimbangan Primer Makin Lebar

Ngutang Untuk Bayar Utang, INDEF: Pemerintah Jokowi Ciptakan Defisit Keseimbangan Primer Makin Lebar

DEMOKRASI - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) yang sudah tiga tahun menjabat justru menciptakan defisit keseimbangan primer yang terus melebar. Hal ini semakin membuktikan bahwa kebijakan utang pemerintah justru hanya untuk membayar utang, bukan untuk kegiatan yang produktif.

Menurut Direktur Ekskutif INDEF, Enny Srihartati, kemampuan bayar utang pemerintah kian rendah, sehingga yang terjadi pemerintah melakukan utang baru hanya untuk membayar utang lama.

“Kondisi itu membuat defisit keseimbangan primer makin melebar. Memang ini sudah terjadi sejak tahun 2012, tapi di era Jokowi makin parah. Karena tak ada pendapatan, maka utang baru untuk bayar utang. Karena proyek-proyek infrastruktur yang dibiayai utang pun tak produktif,” jelas Enny di Jakarta, Jumat (24/11).

Dalam APBN 2018 masih mengalami defisit mencapai Rp78,9 triliun. Sehingga adanya keseimbangan primer yang masih defisit ini, membuktikan kebijakan utang baru hanya untuk membayar bunga utang yang jatuh tempo pada tahun tersebut. Sehingga utang pemeribtah bukan lagi untuk kegiatan produktif.

Apalagi kemudian, kata Enny, proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah Jokowi justru banyak masalah. Padahal awalnya, proyek infrastruktur yang mau dibangun itu infrastruktur yang memfokuskan untuk untuk genjor produktivitas dan daya saing.

“Tapi ternyata lebih banyak kembangkan jalan tol. Ternyata ini gara-gara di akhir zaman SBY ada aturan pembebasan lahan. Sehingga proyek jalan tol jadi mudah dikebut. Padahal mestinya, infrastruktur yang diutamakan itu yang mampu genjot produktivitas dan turunkan high cost,” jelas dia.

Apalagi kemudian, kata dia, dengan banyaknya proyek infrastruktur justru pasokan semen dan baja di dalam negeri malah kelebihan pasokan. Ini membuktikan bahwa semen dan baja yang digunakan bukan dari dalam negeri.

“Karena proyek-proyek infrastruktur yang ada itu semuanya menggunakan semen dan baja impor. Karena mereka anggap lebih murah. Makanya adanya proyek infrasyruktur itu tak ciptakan multiplier effect jangka pendek. Coba kalau digarap swasta, semuanya akan gunakan dari dalam negeri,” jelas dia.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...