logo

Dunia Tidak Takut Ancaman AS, Israel Ketar-Ketir

Dunia Tidak Takut Ancaman AS, Israel Ketar-Ketir

DEMOKRASI - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghentikan bantuan apabila negara-negara anggota PBB menolak mengikuti kebijakan AS soal status Yerusalem pada voting yang akan digelar hari ini (21/12) dalam 'Sesi Khusus' sidang Majelis Umum PBB di New York.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley menyampaikan, Trump memerintahkan dirinya untuk mengingat negara-negara mana saja yang mengambil posisi menentang AS pada sidang hari ini. Dalam akun Twitter-nya, Nikki bahkan menekankan, AS akan "mencatat nama negara-negara" tersebut.

AS pada Senin lalu memveto rancangan resolusi DK PBB yang berisi penolakan penempatan fasilitas diplomasi di Yerusalem. Resolusi ini disetujui oleh 14 negara anggota DK PBB, menyisakan hanya AS seorang diri terisolasi. Hari ini, resolusi usulan Mesir tersebut akan dibawa ke sidang Majelis Umum PBB untuk divoting pengesahan dan implementasinya.

"Teruntuk semua negara, mereka mengambil uang dan menentang kami melalui voting. Mereka mengambil ratusan juta dolar, bahkan miliaran dolar, lalu mereka memilih menentang kami. Kami mengawasi pemungutan suara (di PBB) tersebut. Biarkan mereka memilih menentang kami," ucap Trump dalam rapat kabinet, Rabu (20/12), di Washington, sebagaimana dilansir dari kantor berita Associated Press.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu melihat, ancaman tersebut merupakan upaya AS untuk menebar ketakutan sebelum pemungutan suara berlangsung. Namun, mereka meyakini sebagian besar negara PBB tidak mengambil serius ancaman itu.

"Mereka akan memvoting demi keadilan, dan mereka akan menyetujui resolusi tersebut," ucap al-Maliki.

"Tidak ada satupun negara yang masih memiliki kehormatan untuk menuruti ancaman itu. Dunia telah berubah. Pandangan 'aku kuat maka aku benar' tidak lagi relevan. Dunia hari ini sudah muak dengan ketidakadilan," ujar Cavusoglu menyindir AS.

Israel menjadi negara yang paling ketir-ketir dengan perlawanan semacam itu. Pemerintah Israel pada Rabu kemarin mengatakan telah menggencarkan lobi ke banyak negara agar menentang pengesahan resolusi tersebut. Sejumlah diplomat berpendapat, hasil voting di PBB hari ini akan membuktikan sejauh mana PM Israel Benyamin Netanyahu mampu menggaet dukungan negara-negara berkembang.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...