logo

Otto Hasibuan Bertanya 'Apa Mau Melakukan Pengakuan Perbuatan?', Ini Jawab Setnov

Otto Hasibuan Bertanya 'Apa Mau Melakukan Pengakuan Perbuatan?', Ini Jawab Setnov

DEMOKRASI - Pengacara Otto Hasibuan menyarankan Setya Novanto untuk menghadapi kasus hukum yang menjeratnya dengan cara yang terbaik.

Seperti diketahui Otto adalah pengacara yang sempat mendampingi Setnov dalam kasus E-KTP yang disidik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ada kisah yang diungkapkan Otto ketika kali diminta kali pertama menangani kasus yang membelit Setnov.

Hal itu diungkapkan Otto Hasibuan, di sela-sela kegiatan Rakernas Peradi, di Keraton, Yogyakarta, Senin (11/12/2017.

Diceritakan Otto, ketika kali pertama ia diminta menangani perkara ini (E-KTP), dirinya bertanya kepada Setya Novanto, terkait apa-apa yang harus disepakati antara kedua belah pihak.

“Saya bertanya, apakah Pak Setya Novanto ini mau melakukan pengakuan atas perbuatan yang dituduhkan, kemudian meminta kompromi?” ujar Otto kala bertanya kepada Setya Novanto.

Mendapat pertanyaan itu, Setya Novanto kemudian bertanya balik.

“Apa yang dimaksud kompromi,”ujar Otto menirukan pertanyaan Setya Novanto.

“Saya jawab, kompromi berarti mengaku bersalah dan meminta justice colaboration,”timpal Otto.

Namun yang tidak bisa dipahami, menurut Otto, Setya Novanto justru mengaku bahwa dirinya tidak melakukan apa-apa.

Artinya, dari awal dirinya dan kliennya memang banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Selanjutnya, dalam perkembangannya banyak hal-hal yang kemudian tidak disepakati antara ia dengan setya Novanto.

Ia Mengaku berpedoman membela kliennya dari segi hukum dan tidak bisa dipaksakan untuk masuk kedalam arena politik.

“Saya tidak bisa mengandalkan cara intuisi, politik. Saya harus mengandalkan hukum,” tandasnya.
Selain soal itu, Otto Hasibuan mengaku sempat bertemu Setnov sebelum resmi mengirimkan surat pengunduran dirinya di Rumah Tahanan (Rutan).

Dalam pertemuan yang digelar sehari sebelum pengunduran, ia mengaku sudah mempersiapkan surat penguduran diri tersebut yang ia kantongi didalam jas miliknya.

“Waktu saya datang ke rutan (menemui Setya Novanto) dan menyampaikan kemunduran saya pribadi, sebenarnya dikantong jas saya sudah menyiapkan surat pengunduran diri itu. Tapi ketika saya bertemu dan menyampaikan secara lisan, rasanya saya sebagai orang Indonesia, saya sungkan menyerahkann surat itu di Rutan (kepada Novanto),” ungkap Otto.

Ketika niat mengundurkan diri itu disampaikan, cerita Otto, Setya Novanto mencoba mencegah apa yang menjadi keputusannya tersebut. “Dia (Setya Novanto) bilang tolonglah kita bicarkan lagi,” ujar Otto menirukan jawaban setya Novanto waktu itu.

Namun, ia mengaku sudah memiliki pilihan dan memilih bulat untuk mundur sebagai kuasa hukum, karena tidak memiliki kesepakatan dengan Setya Novanto dalam tata cara penanganan perkara hukum.

Dirinya sebagai advokat menangani beragam perkara kasus hukum selalu berpijak pada garis independen, bebas mandiri dan tetap menjaga integritas serta kode etik.

“Akan tetapi dalam perjalannya, saya dan SN (Setya Novanto) tidak ada kesepakatan tentang cara yang untuk menanagani perkara itu,”terang dia.

Ketika terjadi ketidak sepakatan antara advokat dan klien, dikatakan Otto Hasibuan maka bisa menggangu proses hukum yang sedang berjalan, “Saya sebagai advokat harus mempertahankan kemandirian profesi, etika dan semuanya,” imbuh Otto.

Ada banyak hal dan sulit sekali untuk menceritakan sesuatu yang terjadi antara dirinya dengan Setya Novanto. Namun, karena menyangkut rahasisa klien, dirinya mengaku tidak bisa bicaras secara mendetail.

“Tapi secara hukum, saya katakan bahwa advokat dibenarkan, artinya boleh mengundurkan diri jika tidak terjadi kesepkatan,” ungkapnya.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...