logo

Pantau Gunung Api Aktif di Indonesia, Menko Luhut Minta Bantuan Jepang

Pantau Gunung Api Aktif di Indonesia, Menko Luhut Minta Bantuan Jepang

DEMOKRASI - Sebagai negara yang dilintasi oleh cincin api Pasifik atau lingkaran api Pasifik, maka Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang masih aktif. Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia khususnya yang bertempat tinggal di Bali, cukup diresahkan dengan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan, meninjau Japan Meteorologi Agency (JMA) di Tokyo untuk melihat fasilitas yang memonitor potensi bencana seperti gempa dan tsunami secara real time. Menko Luhut pun membuka keran kerja sama dengan JMA untuk memantau aktivitas gunung berapi di Indonesia.

Dengan bermodalkan para ahli, pengalaman, dan teknologi canggih, Menko Luhut memberikan kesempatan kepada JMA untuk membuat simulasi erupsi Gunung Agung pada tahun 1963.

Luhut juga menginginkan adanya satu model untuk memprediksi aktivitas Gunung Agung dan menghasilkan analisis yang akurat sebagai dasar pemberian peringatan. “Kami ingin melihat dari simulasi itu sehingga kita bisa kasih warning ke internasional,” ungkap Menko Luhut dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (14/12/2017).

Untuk itu, Menko Luhut mengundang ahli-ahli vulkanologi JMA tersebut datang ke Indonesia untuk memperkuat pengawasan gunung api di Indonesia. “(Silakan) diskusi dengan ahli-ahli kami dengan (berdasarkan) pengalaman (ahli-ahli) sini (Jepang) sehingga memperkaya pemahaman kita," kata dia.

Mengingat aktivitas Gunung Agung yang kembali aktif, maka Luhut mengharapkan agar ahli dari JMA dapat dikirim dalam kurun waktu seminggu. Sehingga, didapatkan hasil riset untuk mendukung proses pengambilan kebijakan yang akurat terkait bencana gunung api, sehingga masyarakat tidak dirugikan. “Sehingga cara bertindak kita pas, kami akan fasilitasi,” tukas dia.

Sekadar informasi, saat ini Gunung Agung kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Gunung api yang terletak di Bali itu pernah meletus pada 1963. Letusan pada waktu itu mengakibatkan materi vulkanik terbang sampai 14.000 km dan suhu bumi turun 0,4 derajat celcius.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...