logo

Pengakuan Umat Islam dan Kristen yang Hidup di Yerusalem

Pengakuan Umat Islam dan Kristen yang Hidup di Yerusalem

Bagian ke-1

Pengakuan Umat Islam yang Hidup di Yerusalem

DEMOKRASI - Di dalam kota tua Yerusalem, kerap dijuluki sebagai kota suci tiga agama. Pasalnya, di dalamnya hidup umat agama Yahudi, Kristen dan Islam. Kota ini pun kembali ramai diperbincangkan masyarakat Internasional setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengakui rumah mereka sebagai ibukota Israel.

Tiga umat bergama ini pun, umat Islam, Kristen, dan Yahudi menyampaikan pengakuannya terhadap Kota Yerusalem dan menanggapi sikap sepihak Trump. Umat Islam dan Kristen mempunyai pandangan yang hampir serupa, namun berbeda dengan sikap umat Yahudi.


Berikut pengakuan seorang Muslim yang menjalani bisnis di Yerusalem, Omran Dakkak seperti dilansir laman Australian Broadcasting Corporation (ABC), Ahad (10/12). Omran mengatakan, bahwa dirinya telah menjankan bisnisnya sejak 1969 silam. Menurut dia, bisnis yang tengah digelutinya itu telah dibangun oleh ayahnya sejak tahun 1942. Karena itu, Kota Yerusalem sangat berarti bagi Omran.

"Yerusalem berarti segalanya bagiku, ini hidupku, jika aku tinggal seminggu atau dua minggu aku tersesat," ujar Omran.

Menurut Omran, Yerusalem sangat penting baginya karena di kota suci inilah agama dan kemanusiaan dimulai. Namun, kini agama dan kemanusiaan itu akan berakhir dengan sikap Trump yang sepihak tersebut. "Ini penting karena di situlah agama dan kemanusiaan dimulai dan disitulah akan berakhir," ucapnya.

Omran mengatakan, bahwa Trump merupakan Presiden Amerika Serikat yang tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan di planet ini. Karena itu, Trump bisa saja suatu saat menghancurkan dunia ini.

"Donald Trump bagi saya, dia hanya orang tolol, dan sekretaris luar negerinya memberinya nama ini, Dia orang idiot, Dia tidak tahu apa-apa tentang planet ini, Dia akan menghancurkan dunia ini," kata Omran.

Menurut Omran, Tuhan akan membalas sikap Trump yang berusaha untuk menghancurkan umat beragama di Yerusalem. "Tuhan tahu apa akibatnya (pengumuman Trump). Saya tidak bisa memprediksi apapun, tapi itu tidak akan menyenangkan," ucapnya.

Dengan sikap Trump tersebut, Omran kini khawatir dengan nasib anak dan cucunya kelak dan khawatir terhadap kehidupan generasi masa depan. Karena, Trump bahkan tidak mengakui akan adanya 1,5 miliar Muslim di dunia ini.

"Dia pasti orang yang tidak berpendidikan. Jika dia membaca sejarah, dia tidak akan melakukan hal seperti ini," tuturnya.


Bagian ke-2

Pengakuan Umat Kristen yang Hidup di Yerusalem

Di dalam kota tua Yerusalem kerap dijuluki sebagai kota suci tiga agama. Pasalnya, di dalamnya hidup umat agama Yahudi, Kristen dan Islam. Kota ini pun kembali ramai diperbincangkan masyarakat Internasional setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengakui rumah mereka sebagai ibukota Israel.

Tiga umat bergama ini pun, umat Islam, Kristen, dan Yahudi menyampaikan pengakuannya tentang Kota Yerusalem dan menanggapi sikap sepihak Trump. Umat Islam dan Kristen mempunyai pandangan yang hampir serupa, namun berbeda dengan sikap umat Yahudi.


Berikut pengakuan umat Kristen yang bekerja di sebuah restoran Kota Tua Yerusalem, Jonathan Abu Ali (21) seperti dilansir laman Australian Broadcasting Corporation (ABC), Ahad (10/12). Jonathan mengaku, bahwa dirinya sejak kecil sudah tinggal Yerusalem, sehingga kota suci tiga agama ini sangat berarti baginya.

"Yerusalem adalah rumah saya. Saya dibesarkan di sini, saya dibesarkan di sini, itu berarti segalanya bagi saya, memiliki makna spiritual bagi saya. Yesus disalibkan di sini dan ini adalah rumah bagi banyak orang Kristen," ujarnya.

Menanggapi sikap Donal Trump, dia mengatakan, bahwa seharusnya Trump tidak mengganggu bisnis umat beragama di Yerusalem. Karena, menurut dia, tanah Yerusalem adalah milik umat Kristen, Yahudi, dan Islam.

"Saya pikir orang itu ( Trump) sedikit lebih banyak daripada yang bisa dia kunyah, Anda tahu? Tanah itu milik kita, sebagai orang Kristen, Yahudi, dan Muslim. Saya pikir seseorang dari dunia luar seharusnya tidak mengganggu bisnis kita," ucapnya.

Dia mengatakan, bahwa umat tiga agama itu telah tinggal selama berabad-abad dan hidup rukun sebagai saudara. Namun, pemerintah kemudian menciptakan masalah, sehingga menyebabkan banyak tindakan kekerasan.

"Kami telah tinggal di sini selama berabad-abad sebagai saudara dan pemerintah menciptakan masalah. Permasalahan sudah dimulai. Saya pikir ini akan menyebabkan lebih banyak kekerasan, di seluruh negeri," kata Jonathan.

"Ini bisa menyebabkan lebih banyak kekerasan karena semua orang menginginkan sebidang tanah ini, semua orang mengira itu milik mereka, orang Kristen, Yahudi dan Muslim," imbuhnya.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...