logo

Rasio Utang Indonesia Berpotensi Tembus 35 Persen

Rasio Utang Indonesia Berpotensi Tembus 35 Persen

DEMOKRASI - Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, peningkatan utang luar negeri (ULN) jangka pendek lebih tinggi dibandingkan jangka panjang.

“Tercatat ULN jangka pendek tumbuh 10,6 persen, sementara ULN jangka panjang tumbuh 3,9 persen. Risiko missmatch, akan mengganggu likuiditas swasta maupun sektor publik dalam membayar ULN yang jatuh tempo,” ujarnya dalam keterangan yang diterima oleh rilis.id di Jakarta, Minggu (17/12/2017).

Lebih lanjut, risiko utang juga bisa dilihat dari debt to service ratio (DSR), yang merupakan rasio pembayaran utang terhadap kinerja ekspor. Hingga triwulan-III 2017, angka DSR Tier 1 menyentuh 26,39 persen, angka tersebut berada di atas batas aman yakni 25 persen.

“Angka ini terus naik sejak awal tahun. Peningkatan DSR membuktikan, utang yang ditarik tidak berkorelasi positif terhadap sektor produktif yakni ekspor. Dibanding lima tahun lalu, DSR masih tercatat 17,28 persen,” terangnya.

Ia pun memrediksi, hingga akhir 2017, pertumbuhan ULN akan naik cukup signifikan dibanding 2016. Sementara itu, penerbitan surat utang baru dalam bentuk prefunding di Desember, telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan anggaran tahun depan. Hal ini, akan mendorong pertumbuhan ULN sektor publik.

“Pemerintah merealisasikan penjualan surat utang negara di awal Desember dalam denominasi dolar AS senilai US$4 miliar atau setara Rp54 triliun, dalam rangka prefunding. Dengan begitu, rasio ULN terhadap PDB diperkirakan menembus 35-36 persen,” tutupnya.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...