Debt Collector Ini Tantang Nenek Moyang Bogor, Polisi Lakukan Tindakan Berikut


DEMOKRASI - Kejadian rusuh Cisarua, Kamis (25/1/2018) lalu berbuntut ancaman yang datang dari kelompok debt colector. Di antarannya dengan membuat video berdurasi 1,08 menit yang menyumbar tantangannya kepada nenek moyang Cisarua dan Bogor pada umumnya.

Berikut petikan kalimat yang diucapkan oleh oknum mengaku telah dihalangi pekerjaannya di lapangan.

“Biar mampus orangnya yang menghalangi pekerjaan saya di lapangan… mau Ormas siapa lagi, sini adu pedang sama saya, sini, sini…. lhu mau Ormas nenek moyang Cisarua siapa lagi, hah… mau Bogor kek, mau siapa kek, sini hayo, sini main pedang sama saya, sini, hayo…., kalau kredit kredit aja, jangan gelapin unit, makanya ditarik, utang bayar, yah, hah… heh gua mutilasi lhu, oke..,” seraya mengacungkan permainan dua samurai dan mengganti dengan clurit setelah mengatakan gua mutilasi lhu.

Video pun viral hampir seluruh ormas mendapatkannya dan beberapa ormas langsung bergerak menyisir keberadaannya orang tersebut dengan tujuan untuk ditangkap dan diserahkan kepada pihak kepolisian.

Ada hal lain yang tak kurang menarik dari oknum tersebut karena dalam video tersebut di kepalanya mengenakan topi Pemuda Pancasila (PP), sebuah Ormas Kepemudaan yang eksis di tingkat nasional.

“Jelas itu adalah oknum anggota PP atau memang sengaja agar semua ormas menyerang Ormas PP, hati-hati, oknum tersebut telah memancing amarah ormas lain kepada PP agar kita diadu domba, nantinya dia akan tertawa jika kita berhasil diadu domba, sekarang kita fokus cari orang tersebut jangan terpancing adu dombanya,” ungkap seorang anggota salah satu Ormas yang sedang bersama ormas lain menyisir wilayah Gunung Putri sebagai tempat domisili oknum tersebut.

Tak lama berselang, beredar informasi bahwa pelaku diduga penjahat IT tersebut telah ditemukan di wilayah Ciapus dan telah diamankan pihak Kepolisian Resort Bogor untuk ditindaklanjuti pihak kepolisian.

Diketahui, rusuh Cisarua bermula dari perampasan kendaraan yang dilakukan oleh debt Collector di jalan raya Puncak yang kemudian diarahkan untuk mencari penengah dan diputuskan untuk ke Mapolsek Cisarua Kab Bogor untuk melakulan negosiasi bersama pihak atas nama pemilik kendaraan.

Suasana menjadi rusuh karena seorang debit kolektor mengindang teman-temannya melalui ponsel yang terdengar oleh massa yang lebih dekat berada d lokasi hingga berdatangan dan menghadang anggota debit kolektor yang baru datang hingga suasana makin memanas dan konon dua orang anggota debit kolektor tersebut mengalami luka dan berdarah di bagian kepala akibat amuk masa.

Tak kurang Polres Bogor mengirim Sabhara untuk menetralkan situasi dan berhasil meringkus enam orang debit kolektor alias matel yang terbukti melakukan pelanggaran perampasan kendaraan dan memicu kemarahan warga.

“Dan saya himbau pada masyarakat apabila ada permasalahan leasing, tidak ada yang main hakim sendiri, aturannya adalah kalau mau mengambil kendaraan leasing itu harus terdaftar fidusianya, kemudian diambil setelah melalui proses pengadilan dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian, jadi tidak terjadi masalah seperti ini. Kalau tidak mau bayar silahkan dilaporkan, tidak usah repot-repot mengambil dengan cara pemaksaan. Dan saya juga tidak segan-segan untuk menindak siapapun yang main hakim sendiri,” ungkap Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky di halaman Mapolsek Cisarua usai kejadian.

Rusuh Cisarua berpangkal pada pihak leasing yang menggunakan jasa preman untuk menarik kendaraan di jalan tanpa mengindahkan peraturan fidusia yang telah ditetapkan oleh Kemenkumham RI sebagaimana dimaksud Kapolres Andi M Dicky.

SUMBER © DEMOKRASI.CO

Kejadian rusuh Cisarua, Kamis (25/1/2018) lalu berbuntut ancaman yang datang dari kelompok debt colector. Di antarannya dengan membuat video berdurasi 1,08 menit yang menyumbar tantangannya kepada nenek moyang Cisarua dan Bogor pada umumnya.