Breaking

logo

Kamis, 18 Januari 2018

Dituding Tak Punya Nyali Usut Polisi, Begini Tanggaapan Ketua KPK

Dituding Tak Punya Nyali Usut Polisi, Begini Tanggaapan Ketua KPK

DEMOKRASI - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Raharjo langsung angkat suara terkait tudingan miring yang dilontarkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, jika pihaknya tak punya nyali memeriksa oknum polisi yang diduga terlibat dalam perkara korupsi.

Menurut Agus, terkait rencana pemeriksaan AKP Reza Pahlevi, anggota polisi yang pernah menjadi ajudan Setya Novanto semasa menjadi Ketua DPR RI periode 2014-2019 tersebut, akan tetap diperiksa di kantornya.

"Reza akan diperiksa di KPK," ujarnya melalui pesan singkat kepada JawaPos.com, Kamis (18/01). Namun, ketika ditanya lebih lanjut kapan waktu pemeriksaannya, mantan Ketua Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) tersebut enggan membeberkanya.

Sebelumnya, terkait rencana pemeriksaan Reza, juru bicara KPK Febri Diansyah juga menjelaskan bahwa telah berkoordinasi dengan Kadiv Propam Polri perihal pemeriksaan anggota korps bhayangkara tersebut.

"Soal teknis pemeriksaan apakah akan dilakukan di KPK atau apakah akan dilakukan di kepolisian, itu tentu berdasarkan hasil koordinasi lebih lanjut," jelasnya.

Sebelumnya, pimpinan KPK dinilai selalu kehilangan nyali ketika berhadapan dengan kasus yang terkait dengan personil kepolisian. Hal ini dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti sikap Wakil Ketua KPK yang menyatakan menyerahkan pemeriksaan AKP Reza, Ajudan Setya Novanto kepada Propam Polisi, setelah 2 kali pemanggilan tidak datang, bahkan pihak kepolisian mempersilahkan diperiksa di Mabes Polri saja.

“Menunjukkan sikap KPK yang memang selalu ‘pengecut’ dan kehilangan nyali bila menangani kasus terkait dengan pihak kepolisian dan Polri yang selalu berusah mempersulit penuntasan proses hukum bila terkait dengan Personil mereka,” kata Dahnil, dalam keterangan tertulis kepada JawaPos.com, Kamis (18/01).

Adapun beberapa contohnya antara lain, kasus laporan dugaan suap  senilai Rp100 juta terhadap keluarga Siyono, terduga teroris yang meninggal tidak jelas ditangan Densus 88, kemudian terakhir dugaan perusakan barang bukti oleh dua penyidik KPK dari kepolisian yang tidak jelas hukumannya. Dalam kasus ini kata Dahnil, justru pimpinan KPK kelihatan berusaha menutup-nutupi kasus tersebut.

“Yang paling akhir adalah kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan yang juga diduga melibatkan pihak kepolisian seperti yang sempat disinyalir Novel,”  tandas Pendiri Madrasah Antikorupsi tersebut.

Menurut Dahnil, jika sikap seperti ini dibiarkan terus terjadi, maka pihak kejaksaan, kehakiman dan institusi hukum lain bisa bersikap sama dengan kepolisian, akan menolak dan cenderung mempersulit personelnya untuk diperiksa dan diproses secara hukum.

Sikap kehilangan nyali pimpinan KPK ini kata Dahnil, bisa membuat penegakan hukum praktik korupsi yang melibatkan polisi tidak akan pernah terbongkar dan dituntaskan. Sehingga saat ini, penyidik-penyidik dan karyawan KPK seperti gerombolan singa pemberani yang di pimpin kambing-kambing. “Sehingga lama kelamaan bisa ikut mengembek bukan lagi mengaum,” sindir Dahnil.

SUMBER © DEMOKRASI.CO