logo

Dituduh Partai Biang Kerok, PDIP Tantang Alumni 212 Berdebat

Dituduh Partai Biang Kerok, PDIP Tantang Alumni 212 Berdebat

DEMOKRASI - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menantang Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk berdebat soal demokrasi dan Pancasila. Hal ini merupakan respons terhadap pernyataan PA 212 yang menyebut PDIP sebagai biang kerok permasalahan bangsa Indonesia.

Politisi PDIP Eva Kusuma Sundari menyebut partainya memiliki kinerja, demokrasi di internal, dan kualitas sumber daya manusia yang baik. Menurutnya, PDIP juga menjadi unggulan karena memiliki elektabilitas paling tinggi.

"Jadi paling pas untuk diajak debat, dialog, diskusi dengan Alumni 212 supaya bisa jadi warga negara yang masuk kategori pemilih cerdas," ujar Eva saat dihubungi CNNIndonesia.com via pesan singkat, Sabtu (27/1).

Eva menyampaikan, seharusnya PA 212 paham kalau PDIP adalah partai yang legal dan terlegitimasi. Ia menganggap, masyarakat tahu PDIP menempuh jalur-jalur ksatria dan konstitusional untuk mewujudkan kemajuan di Indonesia.

Ia menyarankan PA 212 untuk menyalurkan hasrat politiknya dengan membentuk partai. Hal ini, menurutnya, agar organisasi itu memiliki posisi yang sama dengan PDIP.

"Sebaiknya Alumni 212 bikin partai, ikut jadi aktor demokrasi sehingga kompatibel dengan PDIP," ucapnya.

Sebelumnya, PA 212 menargetkan kekalahan PDIP serta mendukung soliditas Partai Gerindra, PKS, dan PAN yang mereka sebut sebagai Koalisi 212.

Hal itu mengacu pada peta politik yang dirumuskan Rizieq Shihab dalam dokumen Resolusi Musyawarah Nasional Ulama, Tokoh, dan Aktivis 212. Sementara, Persaudaraan Alumni (PA) 212 adalah nama baru pengganti Presidium Alumni 212.

"Ada satu partai yang menurut kami jadi target utama untuk dikalahkan. Bagi kami partai tersebut biang kerok persoalan bangsa ini," kata Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif di Jakarta Selatan, Sabtu (27/1).

Slamet tidak menyebut secara langsung nama PDIP. Namun ia memberi kisi-kisi bahwa partai yang dimaksud adalah partai penguasa saat ini dan berwarna merah.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...