Breaking

logo

Kamis, 18 Januari 2018

Dugaan Lakukan Tindak Asusila, Salah Satu Bacagub NTT Dilaporkan ke Komnas HAM

Dugaan Lakukan Tindak Asusila, Salah Satu Bacagub NTT Dilaporkan ke Komnas HAM


DEMOKRASI - Perwakilan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Penegak Integritas Bangsa Indonesia untuk NTT (AMPIBI NTT) melaporkan Bakal Calon Gubernur (Bacagub) NTT Marianus Sae (MS) ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/1/2018).

Marianus Sae dilaporkan ke Komnas HAM oleh AMPIBI NTT lantaran diduga kuat telah melakukan tindakan asusila dan amoral terhadap asisten rumah tangganya, sebut saja Bunga, sampai melahirkan anak. Sehingga, Marianus dianggap tidak layak menjadi pemimpin di NTT.

Isi laporan AMPIBI NTT ke Komnas HAM adalah meminta Komnas HAM untuk menelusuri, mengungkapkan dan menindaklanjuti sikap amoral Marianus hingga keluar rekomendasi bahwa Marianus Sae teridentifikasi sebagai sosok yang Cacat Moral dan Cacat Hukum.

Koordinator AMPIBI, John Martin, menegaskan apa yang dilakukan pihaknya dengan melaporkan Marianus Sae ke Komnas HAM merupakan bentuk kepedulian masyarakat yang menginginkan tegaknya integritas bangsa yang diwakili oleh para pemimpinnya, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

"Sehingga, jika ada calon pemimpin, seperti Bacagub NTT Marianus yang jelas-jelas memiliki cacat hukum dan cacat moral, sungguh sangat mempermalukan integritas bangsa ini. Baik di nasional maupun wilayah NTT, kita seperti sudah ditipu daya oleh dia (Marianus). Sosok amoral kok bisa lolos sebagai calon pemimpin (Bacagub)," ungkap John.

Laporan tersebut diterima perwakilan Komnas HAM, Bidang Analisis dan Pengaduan, Nisa di ruang pengaduan.

"Kami menunggu kelengkapan berkas laporan baru akan ditindaklanjuti. Aspirasinya kami tampung. Kasus yang sekiranya bisa ditangani Komnas HAM," kata Nisa.


Tuduhan Hamili Pembantu

Seperti ramai diberitakan sebelumnya, sekitar September 2013, Forum Komunikasi Penyelamat Moralitas Bangsa (FKPMB) pernah mengungkapkan bahwa Marianus memiliki hubungan gelap atau berselingkuh dengan pembantunya berinisial MNS atau N. Hubungan itu bahkan menyebabkan sang pembantu hamil dan melahirkan seorang anak berinisial PR.

"Kami melihat sendiri rekaman video pengakuan N, mantan pembantu di rumah jabatan Bupati Ngada, bahwa ia dihamili oleh Bupati Ngada, Marianus Sae. Rekaman video itu kini tersimpan pada sebuah lembaga yang mendampingi korban kekerasan seksual di kota Maumere, Kabupaten Sikka," ujar Ketua FKPMB Yonas Mitan seperti pernah dimuat di situs108jakarta.com pada 25 September 2015.

Menurut Mitan, skandal seks itu terjadi setahun sebelumnya. Itu artinya sekitar tahun 2012.

Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), sebuah lembaga advokasi kemanusiaan berbasis di Maumere, di mana di dalamnya ada sejumlah pastor dan biarawan/wati, pernah terlibat dalam advokasi terhadap MNS yang dianggap sebagai korban.

Ketua TRUK-F Suster Eustochia Monika Nata SSpS, seperti dilansir ucanews.com pada 8 November 2013, mengatakan dari hubungan gelap itu lahir seorang bayi laki-laki pada 7 Mei 2012.

"Kami punya data berupa catatan, surat kuasa, rekaman, video wawancara. Semua data itu menyebutkan bahwa ayah biologis anak dari MNS (inisial dari Florespsot.co), adalah Bupati Ngada," ujar Suster Eustochia dalam konferensi pers di Maumere, Kamis (7/11/2013), di mana ia didampingi Pastor Otto Gusti Madung SVD, Pastor Ignas Ledot SVD, beberapa suster dan aktivis kemanusiaan lain.

Marianus Sae membantah tuduhan skandal seks dengan pembantunya ini. Selain melalui berbagai media, ia juga telah mengklarifikasi melalui video yang diunggah di laman Youtube pada 29 Oktober 2013. Dalam video itu, Marianus berbicara di hadapan warga masyarakat.

"Sampai hari ini tidak ada satu pun orang yang datang langsung atau datang meminta pertanggungjawaban saya," ujar Marianus dalam video tersebut.

SUMBER © DEMOKRASI.CO