logo

Impor Beras Diduga Bukan Soal Stok, Lalu Apa?

Impor Beras Diduga Bukan Soal Stok, Lalu Apa?

DEMOKRASI - Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka mengatakan kekurangan stock beras di pasaran sehingga menyebabkan kenaikan harga dinilainya bukan karena kurangnya stok hasil beras tani. Akan tetapi menurutnya pemerintah tidak dapat mengelola stok beras Bulog, di mana Bulog tidak maksimal menyerap hasil beras petani.

“Stock hasil tani melimpah, tetapi Bulog tidak maksimal menyerapnya. Sehingga terjadilah kekurangan stock beras. Kurang maksimalnya Bulog lantaran, pemerintah kurang memberdayakan Bulog, terbukti banyak kasus korupsi beras di jajaran Bulog dari pengoplosan beras, korupsi timbangan dan lainnya,” ungkapnya dalam diskusi di Menteng, Jakpus, Rabu, (17/1/2018).

Dia mengungkapkan berdasarkan data satelit, terlihat bahwa pada Januari 2018, akan ada panen di 854.369 ha lahan dengan produksi Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 4,2 juta ton. Pada Februari 2018 akan ada panen di 1.638.391 ha lahan dengan produksi GKG 8,55 juta ton. Pada Maret 2018 panen di 2.252.962 ha lahan dengan produksi GKG 11,8 juta ton.

Panen masih akan berlanjut di April 2018 dengan luas lahan, 1.664.187 ha dan produksi GKG 8,38 juta ton. “Kalau tidak akurat, satelitnya ganti yang baru, buat akurat, jadi masalahnya adalah turunnya kemampuan Bulog untuk menyerap beras dari masyarakat.” tegas dia.

Diketahui, serapan beras Bulog sepanjang tahun 2017 sebesar 2,16 juta ton. Turun 27 persen dari serapan 2016 yaitu 2,96 juta ton. Serapan tahun 2017 juga turun 58 persen dari RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) 2017 sebesar 3,7 ton.

“Stok pas-pasan memang di petani tidak ada yang menyerap, cuma sedikit. Padahal 2015, 2016 Bulog dapat PMN (Penyertaan Modal Negara) total 5 triliun,” tandasnya.

SUMBER