Pernyataan Kapolri Tuai Kecaman


DEMOKRASI - Sejumlah kalangan mengecam keras pernyataan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang menyatakan ormas Islam di luar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah akan merontokkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

“Pernyataan itu tidak sepatutnya disampaikan oleh seorang Kapolri jenderal berbintang empat. Tugas utama kepolisian itu mengayomi masyarakat, bukan memprovokasi,”  papar Novel Bamukmin kepada Harian Terbit, Selasa (30/1/2018).

papar Pengurus Pusat Front Pembela Islam (FPI Novel Bamukmin menilai pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang kontroversial itu dilakukan untuk mencari dukungan salah satu ormas yang ada di Indonesia.

"Pernyataan Kapolri itu sudah masuk delik hukum yaitu fitnah dan pencemaran nama baik ormas - ormas selain NU dan Muhammadiyah," kata Novel kepada Harian Terbit, Selasa (30/1/2018).

Novel menegaskan, pernyataan Tito merupakan kesalahan yang sangat fatal yang diucapkan petinggi negara. Karena Tito menyebut ormas - ormas lain tidak ada sumbangsinya terhadap kemerdekaan atau berdirinya NKRI. Padahal sejarah membuktikan bahwa ormas yang tertua dan pertama kali kala itu Indonesia bernama Hindia Belanda adalah ormas Islam Jamiyatul Khair yang didirikan pada tahun 1903. Anggota dan pengurus Jamiyatul Khair adalah sebagian beaar ulama yang berpejuang melawan Belanda.

"Kesalahan yang lebih fatal lagi dikatakan Kapolri adalah ormas selain NU dan Muhammadiyah malah yang ingin merusak bangsa. Ini fitnah biadab yang sangat tidak punya hati nurani," tegasnya.

Novel menuturkan, justru ormasseperti FPI dan ormas Islam lainnya jelas memiliki merah putih untuk menumbuhkan NKRI. Karena saat ini pihaknya bersama ormas Islam lainnya menolak penjajahan gaya baru oleh asing dan aseng. Pihaknya juga  menolak komunis, memerangi penista agama, liberalisme disegala bidang, LGBT dan sebagainya. Oleh karena itu justru yang paling berhak atas negara ini adalah ulama dan umat Islam yang berjuang paling depan untuk mengatasi kemerosotan moralitas bangsa.

"Ulama dan umat Islam andilnya jelas untuk NKRI. Sebelum NKRI berdiri atau sebelum ada BKR dan TKR atau sekarang TNI - Polri, mereka lah para ulama berjuang bersama rakyat melawan penjajahan," paparnya.

Lebih lanjut Novel mengatakan,  pernyataan Tito sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya. Oleh karena itu patut dipertanyakan kepada siapa ia berpihak. Patut ditanyakan oknum Kapolri saat ini memihak kepada rakyat atau pemodal asing dan aseng, kepada ulama atau pengusaha, kepada NKRI atau negara luar. Hal tersebut patut dipertanyakan karena pernyataan Kapolri kerap kontroversial dan menyudutkan umat Islam.

Sementara itu Ketua Umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) H. Usamah Hisyam mengatakan, tidak sepatutnya Kapolri menyatakan, bahwa ormas Islam di luar NU dan Muhammadiah akan merontokkan NKRI.

"Pernyataan itu tidak sepatutnya disampaikan oleh seorang Kapolri jenderal berbintang empat. Tugas utama Kepolisian itu mengayomi masyarakat, bukan memprovokasi,” ujar Usamah kepada pers usai menerima kunjungan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso  di kantornya di kawasan  Jakarta Selatan, Senin malam (29/1/2018). 

SUMBER © DEMOKRASI.CO

Sejumlah kalangan mengecam keras pernyataan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang menyatakan ormas Islam di luar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah akan merontokkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).