logo

Tanggapi Hasil Survei SMRC, Politisi Gerindra Sebut “Ngaco”

Tanggapi Hasil Survei SMRC, Politisi Gerindra Sebut “Ngaco”

DEMOKRASI - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono mengomentari hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Ia menyebut bahwa survei tersebut sangat berbeda dengan fakta yang ada.

SMRC sendiri baru saja merilis survei mengenai kekuatan partai politik dan calon presiden jelang Pilpres 2019 di Jakarta, Selasa (2/1). ‎Menurut Ferry, banyak anomali atau keanehan dalam temuan survei tersebut.

“Ah ngaco. Seperti biasa, SMRC salah terus. Waktu Pilkada Jakarta juga begitu,” kata Ferry usai acara rilis survei SMRC di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/1).

Salah satu poin yang tidak tepat adalah hubungan antara kondisi demokrasi Indonesia dengan tingkat elektabilitas partai politik. Menurutnya, elektabilitas partai politik merupakan cerminan dari kondisi demokrasi di tanah air.

Dalam pandangan Ferry, demokrasi Indobesia telah memasuki level yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Perbedaan ini mulai nampak ketika pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 lalu.

Masyarakat, jelasnya, sudah memiliki kesadaran tersendiri mengenai pilihan politiknya, alih-alih terbuai oleh politik uang yang sebelumnya merajalela. Paparan di atas merupakan argumentasi yang dilontarkannya terkait meningkatnya elektabilitas PDI Perjuangan menjelang Pemilu 2019 sebagaimana yang disebutkan dalam hasil survei SMRC.

“Fakta-fakta tadi tidak bebanding lurus dengan sebenarnya sedang terjadi. Misalnya tadi soal partai, mohon maaf Mas Heppi, PDIP itu setinggi-tingginya itu ketika 1999 saja (dengan Raihan) 33 %,” jelasnya.

Kondisi ini pun, lanjutnya, terjadi lantaran adanya euforia dari masyarakat akibat jatuhnya Orde Baru. Namun, Ferry meragukan jika kondisi tersebut akan terulang.

“Dengan posisinya sebagai partai berkuasa, biasanya dalam beberapa kejadian justru, ini bacaan umum ya, dia turun. Ketika PDIP dalam posisi opsisi mereka naik, itu anomalinya,” tandasnya.

Ferry menuturkan, survei SMRC terdapat anomali atau keanehan, khususnya mengenai temuan‎ swing voters atau pemilih tak loyal di Partai Gerindra. Menurut dia, partainya seharusnya mendapat perolehan angka swing voters yang rendah. Pasalnya, belum pernah terjadi kader Gerindra berpindah ke partai lain.

“Ada anomali yang secara kualitatif saya bantah mengenai swing voters, bagaimana Gerindra disebut memiliki swing voters yang banyak padahal secara mekanisme kepartaian kita itu sentralistik tertutup. Relatif harusnya partai kami tak memiliki swing voters yang banyak,” jelas dia.

“Sebaliknya, PDIP yang kita tahu secara terbuka di Jakarta Pak Boy Sadikin beserta rombongannya pindah (dari PDIP). Itu kan swing voters juga. Tapi kenapa PDIP jadi yang terkecil swing votersnya?” sambung Ferry.

Dalam rilis survei SMRC, PDIP menempati posisi teratas dengan memperoleh besaran nilai 27,6 persen pada pertanyaan semi terbuka. Sedangkan Gerindra disebut mengalami penurunan atau cenderung stabil, yakni meraih angka 8,9 persen.

Dalam temuan yang sama, Gerindra juga disebut memiliki pemilih tak loyal atau swing voters sebesar 45 persen. Sedangkan partai yang paling sedikit swing votersnya adalah PKS dengan nilai 20 persen dan PDIP 23 persen.

Selain itu, survei SMRC juga menunjukkan mayoritas warga setuju bila Prabowo dijadikan Cawapres mendampingi Jokowi. Sekitar 67 persen warga menyatakan setuju ‎dengan kombinasi pasangan Jokowi-Prabowo sebagai Capres-Cawapres 2019, yang merupakan peningkatan signifikan dari September 2017 ketika angkanya mencapai 48,1 persen‎.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...