Breaking

logo

Rabu, 25 Juli 2018

Etika Raja Jawa di Balik Pertemuan Prabowo dan SBY

Etika Raja Jawa di Balik Pertemuan Prabowo dan SBY

DEMOKRASI - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah bertamu ke rumah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, pada Selasa (24/7) malam. Nuansa etika raja Jawa lekat selama proses bertamu Prabowo.

Agenda pertemuan mereka, tidak lain berkenaan dengan pilpres 2019. Keduanya tampak semakin akrab untuk bekerja sama menghadapi koalisi pendukung Joko Widodo.

Sebelum Prabowo tiba, sejumlah pejabat teras Partai Gerindra datang terlebih dahulu sekitar pukul 18.40 WIB. Mereka mengenakan batik lengan panjang. Jumlahnya tidak sedikit dan bisa disebut sebagai representasi anggota terhormat partai Gerindra.

Mereka adalah Waketum Ferry Juliantono, Edhy Prabowo, Sugiono, dan Sufmi Dasco Ahmad. Kemudian, Anggota Dewan Pembina Djoko Santoso, Rachmawati Soekarnoputri, dan Fuad Bawazier, serta Sekjen Ahmad Muzani turut hadir.

Sekitar 20 menit kemudian, Prabowo datang tanpa ditemani pengurus Gerindra satu pun. Prabowo disambut SBY selaku tuan rumah dan disaksikan para pengurus Gerindra dan Demokrat.

Sejarawan Universitas Padjadaran Widyonugrahanto berpendapat ada etika raja Jawa pada pertemuan di rumah SBY. Hal pertama yang disoroti Anto adalah keputusan Prabowo bertamu ke rumah SBY.

Menurutnya, seharusnya SBY yang mengunjungi rumah Prabowo karena mantan Danjen Kopassus tersebut berada dalam posisi yang lebih kuat secara politik. Prabowo, kata Anto, adalah pihak yang telah memiliki dukungan dari dua partai lain, yakni PKS dan PAN. Beda dengan SBY selaku pihak yang belum memiliki mitra koalisi.

"Tapi ini yang datang malah Prabowo. Itu karena Prabowo menganggap SBY itu lebih 'raja' daripada dia, karena SBY pernah jadi presiden dan Prabowo belum," kata Anto kepada CNNIndonesia.com.

"Begitulah etika Jawa. Inikan konteksnya Prabowo mengajak mantan 'raja' untuk bergabung mendukungnya jadi calon 'raja'," lanjutnya.

Hal lain yang disoroti Anto yakni ketika sejumlah petinggi Gerindra datang mendahului Prabowo ke rumah SBY. Menurut Anto, hal itu juga jadi ciri khas etika raja Jawa kala bertamu.

Para pejabat datang terlebih dahulu untuk menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pertemuan sang raja. Terutama soal keamanan. Dalam hal ini, Para petinggi Gerindra menyiapkan pertemuan lantaran Prabowo memposisikan diri sebagai calon raja.

"Prabowo itu calon raja jadi harus dipepenak atau dilayani. Bahkan dalam berkunjung ke 'raja' SBY harus dilayani oleh bawahannya," ucap Anto.

Anto mengatakan jika Prabowo dan petinggi Gerindra datang bersamaan, ada etika lain yang harus diterapkan. Prabowo harus berada di barisan terdepan. Tidak boleh ada yang mendahului Prabowo selaku calon raja.

"Tapi memang etikanya ada tim pendahulu," imbuh Anto yang juga alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut.

Menurut Anto, etika Raja Jawa saat bertamu tersebut adalah warisan dari Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta. Anto mengatakan embrio etika Raja Jawa itu mulai muncul pada masa Kerajaan Pajang.

Pakem mutlaknya mulai terbentuk saat Danang Sutowijoyo mendirikan Mataram Islam. Budaya itu semakin menguat di masa kepemimpinan Sultan Agung dari Mataram Islam yang tersohor.

"Feodalistik Jawa itu adalah feodalistik warisan Mataram Islam. Majapahit itu budayanya sudah hampir lenyap di Jawa. Malah sisa-sisa Majapahit itu adanya di Bali," tuturnya.

Anto menganggap Prabowo mengadopsi etika raja Jawa saat berkunjung ke rumah SBY bukan karena dikonsep secara matang. Dia pun menilai Prabowo bersikap demikian bukan karena sengaja ingin dianggap layaknya raja.

Menurut Anto, cara Prabowo berkunjung ke rumah SBY yang identik dengan raja Jawa memang pembawaan keturunan Jawa. Dia pun tidak heran dengan sikap Prabowo tersebut, karena riwayat anggota militer yang berasal dari Jawa memang cenderung demikian.

"Semua militer yang orang Jawa itu mewarisi tradisi feodalistik kerajaan Jawa, karena tanpa disadari feodalistis Jawa itu terbawa dalam tradisi kemiliteran di Indonesia," kata Anto.

SUMBER
© DEMOKRASI.CO