logo

Ceramah salat Idul Adha di Stadion Mandala Krida singgung larangan khilafah

Ceramah salat Idul Adha di Stadion Mandala Krida singgung larangan khilafah

DEMOKRASI - Ribuan jemaah mengatasnamakan Komunitas Rindu Islam (Kori) menggelar salat Iduladha di lapangan parkir Stadion Mandala Krida, Selasa (21/8). Salat Iduladha tersebut dipimpin oleh imam dan khatib Sigit Purnawan Jati.

Dalam ceramahnya, khatib sempat menyinggung tentang khilafah. Khatib menyebut jika pelarangan terhadap khilafah telah terjadi dengan alasan mengancam kebhinekaan.

"Syariah Islam seolah haram diterapkan hanya karena satu tuduhan tak beralasan, bisa mengancam kebhinekaan. Demikian pula institusi penerap syariah yakni khilafah Islam juga terlarang diperjuangkan. Bahkan tak boleh (diperjuangkan) meski sekedar diwacanakan," ujar Sigit saat memberikan ceramah.

Sigit mengatakan, jika saat ini banyak aktivis mendukung khilafah menjadi korban kriminalisasi. Bahkan, lanjut Sigit, organisasi pejuang khilafah pun dibubarkan paksa oleh pemerintah.

"Organisasi mereka bubarkan dengan tuduhan yang diada-adakan. Padahal jelas, khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam yang wajib ditegakkan," terang Sigit.

Sigit juga menguraikan tentang banyaknya keharaman yang menjadi dihalalkan dalam proses demokrasi. Penghalalan itu dituding dilindungi melalui undang-undang yang lahir dari sistem demokrasi.

"Banyak keharaman dihalalkan. Banyak pula perkara halal diharamkan. Tak jarang semua itu dilegalkan oleh undang-undang lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan. Lihatlah, bagaimana riba telah dihalalkan. Miras pun dilegalkan meski dibatasi peredarannya. Pelacuran dilokalisasi dengan alasan yang diada-adakan. Zina tak dipandang sebagai kejahatan, LGBT pun tak boleh dikriminalkan karena itu melanggar HAM," pungkas Sigit.

Tak hanya ceramah menyinggung soal khilafah, bendera Ar-Rayah sebelumnya terlihat terpasang saat Kori menggelar salat Idul Adha di halaman parkir Stadion Mandala Krida. Namun pihak Kori membantah jika bendera berwarna hitam tersebut berkaitan dengan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

"Sebenarnyakan itu bendera hitam bertuliskan lailahaillallah muhammadarrasulullah. Itukan bendera kaum muslimin," kata Penasihat Kori, Ahmad Sudrajat, Selasa (21/8).

Sudrajat mengatakan, bendera atau panji yang terpasang saat salat Idul Adha itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Sehingga tidaklah tepat jika bendera itu diidentikkan pada sebuah organisasi seperti HTI.

"Itu adalah bendera atau panjinya Rasulullah SAW, itu yang kita pahami. Jadi itu bukan milik organisasi tertentu atau yang mencirikan organisasi tertentu, tidak begitu. Yang saya tahu HTI tidak punya bendera khusus ya. Sering bawa itu mungkin yang saya pahami adalah benderanya kaum muslimin. Siapapun bisa membawanya," ujar Sudrajat.

Sudrajat menambahkan dipasangnya bendera hitam itu merupakan penanda jika masyarakat muslim rindu pada kejayaan Islam. Wajar, lanjut Sudrajat jika bendera itu terpasang saat salat Idul Adha.

"Menginginkan berlangsungnya kehidupan yang sesuai dengan Islam. Harapan kita begitu dengan (pemasangan) bendera itu," tutup Sudrajat.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ribuan jemaah dari Kori menggelar salat Idul Adha sehari lebih awal dibandingkan ketetapan pemerintah yang mengatakan jika Iduladha jatuh pada Rabu (22/8) besok. Jamaah Kori menggelar salat Idul Adha di hari Selasa (21/8). Salat dimulai pukul 06.45 WIB dengan imam dan khatib adalah Sigit Purnawan Jati.

© DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...