logo

Misteri Hilangnya Komandan PETA Supriyadi, Ini Kata Keluarganya

Misteri Hilangnya Komandan PETA Supriyadi, Ini Kata Keluarganya

DEMOKRASI  - Pemimpin pemberontakan PETA, Supriyadi, kisahnya sampai kini masih jadi teka-teki. Tak satupun arsip sejarah negara yang mengungkap jelas keberadaannya. 

Berkembang informasi yang sumir hingga sekarang jika pria berpangkat shodanco itu menghilang pascapemberontakan PETA. Namun hal ini dibantah secara tegas oleh keluarganya. 

"Kakak saya pejuang sejati. Ketika dia pamit kepada bapak mau berontak, bapak pesan begini. Berani angkat senjata, berarti kamu harus berani mati dalam kondisi apa saja," ujar adik tiri Supriyadi yang bernama Suroto ditemui di Wisma Darmadi Jalan Sudanco Supriyadi Kota Blitar, Rabu (15/8/2018).

Lelaki berusia 79 tahun itu meyakini kakaknya meninggal dalam penanganan khusus pihak Jepang. Walaupun dia dan keluarga besarnya tidak tahu dimana dan kapan Supriyadi dieksekusi. Namun sikap sang bapak yang tidak berusaha mencari tahu keberadaan anaknya, menjadi pegangan keluarga untuk bertahan dalam diam. 

"Ketika itu usia saya 9 tahun. Usai pemberontakan bapak saya, Darmadi, juga dibawa Jepang ke Kampetai Kediri. Bapak dipenjara sampai Indonesia merdeka. Setelah itu bapak menjabat sebagai Bupati Blitar. Tapi beliau tetap diam, tidak berusaha mencari anaknya. Beliau hanya bilang, kita punya adat mikul dhuwur mendem jero," ucapnya. 

Darmadi sendiri juga diketahui sebagai anggota PETA angkatan pertama. Bersama Suharto dan AH Nasution. Tahun 1945, Darmadi menjabat sebagai petinggi Kejaksaan di Kediri. 

Menurut Suroto, sepekan sebelum menjalankan pemberontakan, kakaknya sempat menemui Bung Karno ketika pulang ke Blitar. Bung Karno adalah satu di antara tokoh Indonesia yang membidani lahirnya PETA. Posisi Bung Karno saat itu sebagai bagian penataan PETA. 

Inti pertemuan itu, Bung Karno tidak menyetujui rencana Supriyadi. Mengingat jumlah anggota batalyon PETA Blitar sangat sedikit. Tapi melawan jiwa muda Supriyadi, Bung Karno tak mampu berbuat banyak. Bung Karno menghawatirkan akan timbul korban jiwa sangat banyak, jika Supriyadi tetap menjalankan rencananya. 

"Tapi kata bapak rencana pemberontakan itu telah diketahui Jepang. Bapak juga dapat info dari jenderal-jenderal Jepang, intelijen mereka memakai taktik ambil ikannya, tapi jangan buat keruh airnya," imbuhnya

Suroto mengatakan, PETA Batalyon Blitar terdiri dari empat kompi. Sebanyak tiga kompi pada saat bersamaan dikirim ke Tuban untuk latihan perang bersama. Tanggal 13 Februari 1945 itu, di Blitar hanya tersisa satu kompi. 

Dari pengasuhnya yang juga anggota PETA, Suroto mendapat cerita jika kompi 1 Batalyon Blitar yang dipimpin Supriyadi dibantai menggunakan tank baja di Hutan Maliran, Ponggok. Namun lagi-lagi, tak satupun fakta yang dapat membuktikan cerita itu. 

"Kami keluarganya yakin, saudara kami telah meninggal dunia. Dia tewas bersama anak buahnya di Alas Maliran. Tidak benar kalau ada kabar, kakak saya bisa menghilang. Selama hidupnya, kakak saya orang berpendidikan modern," tandas Suroto. 

Yang membuat Suroto dan keluarga besarnya prihatin, kenapa pemerintah sampai sekarang terkesan membiarkan rumor kehidupan Supriyadi menjadi mistis. 

"Bangsa Jepang yang dibilang biadab saja, usai perang masih mencari dan mengumpulkan tulang belulang pejuangnya di pulau-pulau seluruh Indonesia. Lha kita yang katanya bangsa religius menghargai jasa pahlawan, kenapa ini terus dibiarkan. Kenapa terus ditutupi ," pungkasnya penuh tanya. 

© DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...