logo

Sandiaga, Bisikan SBY dan 'The Power of Emak-emak'

Sandiaga, Bisikan SBY dan 'The Power of Emak-emak'

DEMOKRASI  -  Barisan ibu-ibu alias emak-emak menjadi salah satu target suara pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Bahkan, Sandi menyuarakan aspirasi emak-emak pada hari pendaftarannya sebagai calon RI 2 di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8) lalu. Mantan pengusaha itu mengumbar janji bakal menyejahterakan kaum ibu dengan menstabilkan harga kebutuhan pokok.

"Kami akan berjuang untuk partai emak-emak. Kami ingin harga-harga pangan terjangkau," ucap Sandi diiringi sorak sorai pendukungnya.

Tak hanya memakan janji, emak-emak saat ini memang tampak lebih aktif berpartisipasi politik. Contohnya, aksi ratusan ustazah dan emak-emak yang mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo-Sandi di Gedung Dakwah Haji Asyiyah, Jakarta, Selasa (14/8). 

Mereka menyatakan Jihad Fisabililah dengan mendukung pasangan yang diusung Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Demokrat tersebut.

"Ini kita ungkapkan kesenangan karana Pak Sandiaga peduli umat, peduli emak-emak," ujar Euis, ketua panitia deklarasi.

Tak hanya Prabowo-Sandi, sang pesaing Joko Widodo-Ma'ruf Amien juga mengantongi dukungan dari kaum ibu. Salah satunya dari Relawan Emak Militan Jokowi Indonesia (EMJI) yang mengecam gerakan #2019GantiPresiden karena dinilai provokatif dan merusak sistem demokrasi.

Kesempatan perempuan dalam menggunakan hak pilih memang tak boleh dipandang sebelah mata. Berdasarkan data KPU per 12 Juli 2018, jumlah antara laki-laki dan perempuan dalam daftar pemilih sementara (DPS) Pemilu 2019 cukup imbang. 

Dari 185.639.674 pemilih di 34 provinsi seluruh Indonesia, sebanyak 92.843.299 adalah pemilih laki-laki dan 92.796.375 lainnya adalah pemilih perempuan.

Pengamat komunikasi politik Universitas Bunda Mulia Silvanus Alvin mengamini bahwa Prabowo-Sandi sedang gencar berupaya mengambil hati emak-emak yang notabene masyarakat akar rumput atau grassroot.

Menurutnya, menyuarakan aspirasi emak-emak adalah gaya baru dalam komunikasi politik. Hal itu juga dipicu oleh literasi politik yang semakin baik di kalangan perempuan.

"Dulu perempuan lebih mengikuti pilihan politik suami atau pasangannya. Kini seiring meningkatnya pemahaman akan politik, mereka mampu menentukan pilihannya sendiri," kata Alvin kepada CNNIndonesia,com, Rabu (15/8).

Selain itu, Alvin meyakini emak-emak berpotensi menjadi agen politik yang baik. Kecenderungan emak-emak yang gemar bergosip bisa saja menyelipkan obrolan dalam ranah politik.

"Sehingga, terjadilah persuasi melalui word of mouth," ujar Alvin.


Sandiaga, Bisikan SBY dan 'The Power of Emak-emak'Ibu-ibu yang tergabung dalam Barisan Emak-emak Militan Indonesia melakukan aksi di depan istana menuntut Presiden Joko Widodo. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)

Dugaan Alvin, ada kemungkinan Sandi mendapat masukan dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku penasehat pemenangan untuk mengeksploitasi kegagahan dan ketampanannya itu demi merebut simpati pemilih perempuan.

Terpisah, pakar filasafat komunikasi Universitas Indonesia Firman Kurniawan menilai selama ini kepemimpinan dan kekuasaan politik identik dengan laki-laki alias sistem patriarki.

Padahal, kelompok perempuan juga merasakan dampak ketika sebuah kekuasaan berhasil diraih laki-laki.

"Misalnya, para ibu rumah tangga atau emak-emak yang merasakan kenaikan harga," ujar Firman.

Sehingga, Firman menilai upaya Prabowo-Sandi untuk mengguggah emosional kelompok emak-emak, yang jumlahnya cukup imbang dengan laki-laki, merupakan strategi komunikasi yang baik.

"Apa salahnya membangun simbolisasi bahwa kelompok pemilih perempuan juga punya power? Sangat strategis," katanya.

The Power of Emak-emak

Firman menilai pemilihan diksi 'emak-emak' tak lepas dari situasi populer yang melanda Nusantara. Di dunia hiburan masa kini, misalnya, telah tayang sebuah sinetron berjudul The Power of Emak-emak.

Kemudian, penggunaan diksi 'emak-emak' juga kerap digunakan dalam situasi anekdotal yang sebenarnya mengkritik kelakuan perempuan. Firman mencontohkan, masyarakat seolah mafhum ketika melihat ibu-ibu pengendara sepeda motor melanggar lalu lintas di jalan raya.

"Situasi itu harus dimaklumi, 'Maklum emak-emak,'" kata Firman.

Sistem nilai di masyarakat juga menganggap ibu atau emak sebagai kelompok yang harus dihormati karena pengorbanan dan kasih sayangnya yang tak terbatas.

Dengan demikian, Firman menyimpulkan pemanfaatan simbol 'emak-emak' maupun merealisasikan program secara serius kepada kelompok tersebut patut dianggap strategis. Terlebih, emak-emak juga telah aktif mengaktualkan dirinya sendiri dengan berbagai gaya dan aktivitas di media sosial.

"Sehingga, ketika ada kelompok politik yang bersedia mendengar aktualisasi mereka, tentu dirasakan sebagai penghargaan," kata Firman.

© DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...