logo

Yusril soal Prabowo tak ikuti itjima: Siapa yang tidak taat kepada ulama?

Yusril soal Prabowo tak ikuti itjima: Siapa yang tidak taat kepada ulama?

DENOKRASI - Ketum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengonfirmasi bahwa keterangan tertulis yang beredar mengenai kekecewaan PBB terhadap koalisi Prabowo Subianto. Menurut dia, tulisan itu merupakan penjelasan terhadap situasi saat ini kepada internal PBB.

"Ya. Itu tulisan saya. Saya tulis sebagai penjelasan ke dalam PBB," ucap Yusril lewat pesan singkatnya, Rabu (15/8).

Yusril pun tidak mempermasalahkan ketika tulisan itu beredar ke publik. Meskipun awalnya tulisan itu bukan lah konsumsi publik.

"Tetapi ternyata ke luar ke publik. Tidak masalah. Itu memang tulisan saya," kata Yusril.

Dalam keterangan tertulis yang dibuat oleh pakar hukum tatanegara itu, dituliskan bahwa koalisi keumatan hanya fatamorgana. PBB, kata dia, tidak pernah terlibat di sana. Parpol koalisi keumatan juga, lanjutnya, tak memberikan respons ketika partainya menghubungi untuk membicarakan koalisi.

Yusril mengaku, hingga saat ini pun, PBB tidak diajak untuk membahas masalah koalisi, termasuk ketika penentuan cawapres Prabowo. Karenanya, Yusril merasa bahwa partainya bukan bagian dari koalisi yang disebut dia, digagas oleh pimpinan FPI Rizieq Shihab.

"Memang tidak. Ya. Karena tidak diajak untuk membahas masalah tersebut, kami merasa tidak menjadi bagian dari koalisi itu," ucap Yusril menegaskan.

Dalam keterangan tertulis itu juga Yusril sempat mengungkapkan bahwa, Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto melakukan fitnah kepadanya.

"Apalagi Ketua Umum Gerindra secara terbuka memfitnah saya dengan mengatakan bahwa beliau memang mengaku terus terang tidak pernah berbicara dengan Ketua Umum PBB karena 'tiap kali dihubungi beliau selalu berada di luar negeri'. Mana ada aktivis PBB yang membela Ketua Umumnya yang diperlakukan seperti itu?," ujar Yusril dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, dia juga menyinggung mengenai sikap mantan Danjen Kopassus itu yang tidak memilih figur cawapres dari kalangan ulama dan tidak mengikuti usulan dari hasil Ijtima Ulama. Sebagaimana yang telah diusulkan di Hotel Peninsula, 27 Juli hingga 29 Juli 2018 lalu, bahwa Ijtima Ulama merekomendasikan Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad (UAS) sebagai cawapres Prabowo Subianto.

"Sekarang, siapa yang tidak taat kepada ulama? Konon sekarang akan diadakan Ijtimak Ulama Tahap II untuk memutuskan apakah akan membenarkan atau menolak keputusan Prabowo yang memilih Sandiaga Uno, seorang pedagang, bukannya ulama, sementara Jokowi malah memilih ulama yang juga Ketua MUI dan sekaligus Rois Am PB NU, walau Jokowi tidak pernah mendapat amanat demikian dari para ulama yang berijtimak," kata Yusril dalam keterangan tertulisnya.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...