logo

Analisis Boni soal Pembakaran Bendera dan Skenario Eks HTI

Analisis Boni soal Pembakaran Bendera dan Skenario Eks HTI

DEMOKRASI - Pengamat politik Boni Hargens menduga, sebagian besar eks pentolan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sedang aktif menggalang dukungan untuk calon presiden tertentu pada kampanye Pilpres 2019.

Langkah tersebut ditempuh karena menganggap pemerintahan saat ini thoghut. Apalagi diketahui, pemerintahan yang berkuasa saat ini yang membubarkan HTI.

"Khilafah adalah tujuan politik. Saya melihat ada skenario yang di dalamnya eks-HTI terlibat dengan tujuan meraih kekuasaan pada pemilu 2019," ujar Boni di Jakarta, Jumat (26/10).

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini memprediksi, untuk mencapai tujuan yang diinginkan, para pentolan eks-HTI kemungkinan membangun kesepakatan politik dengan elite tertentu, memastikan adanya kendaraan politik untuk perjuangan khilafah.

"Kemudian, membangun narasi hitam tentang pemerintah sebagai thoghut, komunis, anti-Islam dan sebagainya," ucap Boni.

Selain itu, para pentolan HTI diprediksi juga sedang berusaha mendelegitimasi institusi keamanan sebagai langkah taktis melemahkan posisi pemerintah. Misalnya, BIN dituding berpolitik, POLRI dan TNI dianggap alat pemerintah, bukan alat negara.

"Opini ini dibangun secara sistematis. Kasus Ratna Sarumpaet saya kira ada dalam kontinum ini. Ingin membangun persepsi bahwa 'negara zalim'," katanya.

Boni juga memperkirakan mereka sedang memainkan peran sebagai korban sembari aktif melakukan propaganda negatif di tengah masyarakat. Tujuannya, untuk membangun persepsi buruk tentang pemerintah dan partai pendukung pemerintah.

"Jadi kesimpulannya, saya menduga eks HTI sedang berupaya menjadikan pemilu sebagai kuda Troya untuk merebut kekuasaan pada Pemilu 2019," katanya.

Menurut Boni, pemilu merupakan mekanisme ‘demokratis’ untuk mendapat legitimasi. Setelah itu, perlahan-lahan para eks pentolan HTI kemungkinan berupaya mengubah sistem yang ada untuk mendirikan khilafah.

"Saya berhipotesis, aksi pembakaran bendera HTI di Garut adalah bagian dari skenario playing victim untuk tujuan ganda. Yaitu, melemahkan Nahdatul Ulama
dengan Ansor dan Bansernya, untuk meruntuhkan dominasi kaum nasional di negeri ini," tutur Boni.

Kemudian, meningkatkan radikalisme kelompok pasif yang selama ini masih bingung dengan perjuangan HTI, tapi juga belum mempunyai sikap politik yang pasti dalam pemilu mendatang.

"Ada kemungkinan kuat aksi di Garut adalah bagian dari strategi kampanye HTI untuk meraih kekuasaan pada pemilu 2019 mendatang," pungkas Boni.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...