logo

Bendera Putih Berkibar Dimana-mana, Balaroa Palu Jadi Kuburan Massal

Bendera Putih Berkibar Dimana-mana, Balaroa Palu Jadi Kuburan Massal

DEMOKRASI - Gempa Palu dan Donggala yang disertai tsunami pada Jumat (28/9/2018) lalu telah memporak-porandakan dua wilayah tersebut.

Salah satu wilauyah yang terdampak cukup parah adalah Perumnas Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Berdasarkan penuturan sejumlah warga Balaroa, tempat tinggal mereka itu kini sudah tak lagi seperti permukiman.

Rumah dan bangunan seperti dibolak-balik. Tanah menjulang, menelan tiap bangunan yang berdiri di atasnya.

Bangunan bak ditelan bumi. Tanah berlumpur mencuat ke permukaan.

Sejumlah ruas jalan pun sudah tak lagi bisa dilalui akibat menjulang sampai empat meter.

Belum lagi saat gempa terjadi, hubungan arus pendek listrik memicu kebakaran.

Dari runtuhan bekas kebakaran itu pula jenazah yang Tim Wahdah Peduli evakuasi tidak utuh lagi. Organ-organ tubuh korban terhambur.

Ada jenazah yang ditemui telah terbakar dan tinggal beberapa helai rambut.

Sejauh mata memandang hanyalah puing-puing rumah. Berjalan mesti hati-hati agar tidak terperosok masuk ke kolom rumah yang sudah tua tidak jelas bentuknya.

Pekikan takbir seringkali terjadi yang membuat merinding ketika keluarga korban dari luar Palu datang berkunjung mencari sanak famili dan yang mereka temui hanyalah puing-puing bangunan.

Bendera-bendera atau kain putih terpasang di mana-mana. Pertanda bahwa di bawah puing bangunan ini ada jenazah yang tertimbun dan belum bisa dievakuasi.

Seakan-akan wilayah menjadi kuburan massal.

Permukiman yang dihuni sekitar 3000 jiwa itu kondisi reruntuhan bangunan sangat tidak stabil.

Menapakkan kaki di atas runtuhan bangunan itu, bak menanggung risiko memicu runtuhan lainnya.

Belum lagi, saat malam hari, tak ada lampu penerangan sama sekali. Pasalnya, sampai saat ini, listrik masih belum menyala.

Malam hari pun seakan makin membuat wilayah tersebut bak kota mati. Tak ada suara. Hanya senyap.

Untuk proses evakuasi, sejumlah tim relawan pun terpaksa melakukan dengan manual.

Lantaran, alat berat dipastikan tak bisa memasuki wilayah itu.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...