Headline

logo

Cerita Pengungsi di Palu Antusias Memilih Pakaian Layak Pakai...

Cerita Pengungsi di Palu Antusias Memilih Pakaian Layak Pakai...

DEMOKRASI - Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018) lalu mengakibatkan daerah Petobo dan Balaroa lenyap karena lumpur (likuifaksi).

Akibat kondisi tersebut, sebagian besar korban yang selamat dan kini menjadi pengungsi pun tidak memiliki tempat tinggal, harta benda bahkan pakaian sehari-harinya.

Ini membuat pakaian menjadi salah satu kebutuhan utama bagi para pengungsi korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Pantauan Kompas.com, sejumlah pengungsi terlihat berbondong-bondong dan antusias memilih-milih layak pakai yang ditumpuk di depan pengungsian warga Balaroa.

Ada yang membawa lima potong pakaian, ada pula yang membawa sepuluh sekaligus. Satu per satu korban berdatangan, beberapa mengendarai sepeda motor.

Salah satunya adalah Nurafi (21) yang mengatakan pakaian layak pakai bantuan masyarakat tersebut sudah diletakkan sejak empat hari lalu.

“Sudah empat hari ini kaos ditumpuk begini, ketika sudah mulai tipis tumpukannya ditambah lagi bajunya,” ucap Nurafi di Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10/2018).

Nurafi saat itu memilih pakaian untuk dirinya dan keluarganya.

“Saya selalu ambil kok bajunya pagi sebelum mandi lalu sore saya ambil lagi. Nyicil-nyicil bawa bajunya buat adik dan mama saya juga,” ucap Nurafi.

Hal senada diucapkan Rani (36), yang mengaku senang akhirnya dapat kembali berganti pakaian karena hanya satu potong yang tersisa.

“Jangan baju, uang pun sudah tidak kita pikirkan di rumah, motor saja saya biarkan tenggelam, yang penting nyawa masih ada,” tutur Rani.

Ia mengatakan baju layak pakai sangat bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya. Kondisi pakaian yang disumbangkan kepada korban pun baik, tak robek dan tak jelek pula.

“Bajunya bagus-bagus kok tidak ada yang robek ataupun jelek. Lumayan, saya bisa cuci baju yang saya pakai, saya pakai deh nanti baju yang saya ambil ini,” ucap Rani.

Beda halnya Wahida (28) yang mengakui pakaian di rumahnya kala itu dijarah hingga tidak satu pun tersisa.

“Baju saya waktu itu dijarah, tidak ada yang tersisa, saya lihat bentuk rumah saya pun sudah tidak ada lagi," kata dia.

Wahida meminta anaknya untuk mengambil pakaian sebanyak-banyaknya untuk persediaan ke depannya sehari-hari.

“Saya suruh anak saya ambil baju tadi untuk persediaan sehari-hari, baju saya ini sudah tidak ada lagi. Ini baju yang saya pakai boleh dikasih orang,” tutur Wahida.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...
loading...