logo

Duh, Stigma Warga Madiun Keturunan PKI Masih Beredar

Duh, Stigma Warga Madiun Keturunan PKI Masih Beredar

DEMOKRASI - Bagi warga Madiun, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1948 merupakan bagian dari sejarah mereka yang amat kelam. Apalagi ribuan nyawa berjatuhan saat peristiwa tersebut.

Dalam sejarahnya, PKI disebut dapat menduduki Madiun hanya selama 13 hari, yaitu mulai tanggal 18-30 September 2018. Selama itulah PKI melakukan pembantaian pada sejumlah tokoh maupun ulama di Madiun.

Ironisnya, hal ini justru memicu anggapan bahwa Madiun adalah basis PKI sehingga warga Kota Brem ini kerap dituding sebagai keturunan PKI.

"Sepertinya stigma kalau Madiun itu basisnya PKI di mata masyarakat luar daerah masih ada. Sebenarnya itu hal yang salah. Makanya kita ingin meluruskan itu bahwa Madiun ini juga merupakan korban keganasan PKI yang ingin berkuasa saat itu," kata Kasi Kesenian Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Gayeng Gunanto, kepada detikcom, Rabu (3/10/2018).

Bahkan menurut Gayeng, keluhan juga dilontarkan oleh warga Madiun yang merantau ke luar daerah.

"Para perantau yang ditanya asal daerah mereka kalau menjawab Madiun selalu konotasinya pasti disebut anak keturunan PKI," ungkapnya.


Duh, Stigma Warga Madiun Keturunan PKI Masih BeredarFoto: Sugeng Harianto/File

Hal ini juga menjadi keprihatinan tersendiri bagi Bupati Madiun, Ahmad Dawami. "Stigma yang melekat konotasinya warga Madiun ini anak keturunan PKI. Padahal Madiun itu korbannya PKI, bukan pelaku. Dulu kan pimpinan pemberontakan namanya Musso. Dia juga orang luar Madiun," paparnya secara terpisah.

Untuk menghilangkan stigma itu, Dawami mengungkapkan ada berbagai upaya yang coba dilakukannya, misalnya mensosialisasikan kebenaran fakta bahwa Madiun hanyalah korban PKI, bukan basis.

"Nah kita ini berusaha mencabut stigma itu. Yang jelas terkait stigma itu kita sampaikan ke masyarakat luas. Perlu penekanan bahwa pemberontakan PKI itulah yang mau mengganti dasar negara Indonesia Pancasila," terangnya.

Dawami menambahkan, sosialisasi aktif juga diberikan kepada para pelajar atau di sekolah-sekolah, termasuk mengajak mereka mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Kresek yang dikenal sebagai saksi bisu kekejaman PKI kala itu.

Seperti yang dilaksanakan Pemkab Madiun dan sejumlah pelajar saat Hari Kesaktian Pancasila, Senin (1/10/2018) lalu.

"Kita ingin anak muda tahu sejarah kelam Madiun yang saat itu peristiwa 1948 dijajah oleh bangsa sendiri yaitu PKI. Jangan sampai peristiwa itu terulang pada anak cucu kita," terang Dawami yang saat itu menjadi inspektur upacara.

Sebelum upacara, para pelajar yang ambil bagian dalam kegiatan ini juga diajak longmarch jejak para korban pembantaian PKI dan diberi paparan tentang sejarah kelam tersebut.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...