logo

Gerindra: Tak ada kekayaan perusahaan keluarga Prabowo disimpan di luar negeri

Gerindra: Tak ada kekayaan perusahaan keluarga Prabowo disimpan di luar negeri

DEMOKRASI - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, memastikan tak ada kekayaan dari perusahaan keluarga Prabowo Subianto atau adiknya Hashim Djojohadikusumo, yang disimpan di luar negeri. Dia juga memasitkan hal yang sama untuk cawapres Sandiaga Salahuddin Uno.

Pernyataan ini disampaikan Arief Poyuono untuk membantah pernyataan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Rizal Calvary Marimbo. Rizal sebelumnya menyatakan pasangan Prabowo-Sandi telah menjalankan praktik ekonomi kebodohan di mana keduanya merupakan makelar dari investor asing. Praktik ekonomi kebodohan atau economics of stupidity sebelumnya diungkapkan Prabowo saat menghadiri rakernas LDII pekan lalu. Salah satu aspek ekonomi kebodohan dalam pandangan Prabowo adalah kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri dan tak bisa dinikmati bangsa Indonesia.

"Kasihan saya dengan kader PSI yang masih cetek wawasannya tentang apa yang namanya kekayaan negara mengalir keluar. Sedangkan masalah bisnis keluarga Hashim dan Sandiaga itu bagian dari bisnis dengan mitra internasional. Tapi coba check, ada enggak dana perusahaan Sandiaga atau Hashim stay di luar negeri? Jawabannya tidak," jelasnya kepada merdeka.com, Selasa (16/10).

Arief membandingkan dengan para pengusaha yang berada di balik capres petahana, Joko Widodo. Menurutnya, banyak pengusaha di belakang Jokowi yang menempatkan dana hasil bisnisnya di luar negeri.

"Beda dengan para pengusaha yang di belakang Joko Widodo. Semua menempatkan dana hasil usahanya di Indonesia ditaruh di Singapura dan Hong Kong," sebutnya.

Menurutnya pernyataan kader PSI tersebut didasari ketidakpahaman atas pernyataan Prabowo khususnya terkait kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri. Ia mencontohkan, baru-baru ini kurs rupiah kembali melemah atas dolar Amerika menuju angka hampir Rp 16.000 per dolar Amerika. Bank Indonesia kemudian membuat aturan akan memberikan insentif pada perusahaan-perusahaan asing dan nasional yang produknya berorientasi ekspor seperti sektor pertambangan, kelapa Sawit (CPO), dan lainnya.

"Jika hasil pendapatan dari ekspor mereka berupa hasil tambang dan CPO dalam bentuk dolar tidak ditransaksikan dan disimpan di bank-bank luar negeri, tetapi ditaruh di Indonesia untuk dikurskan dalam Rupiah, hasil ekspor tersebut kan masuk dalam Produk Domestik Bruto Indonesia. Seharusnya pendapatan itu stay di Indonesia jika pembuat kebijakan moneter di Indonesia atau pemerintah punya kecerdasan dalam mengelola ekonomi Indonesia," jelasnya.

"Misalnya coba Joko Widodo berani enggak lakukan kebijakan kontrol modal yang keluar masuk di Indonesia agar kekayaan Indonesia dalam bentuk pendapatan ekspor tidak mengalir ke luar negeri? Nah ini namanya sistem ekonomi yang bodoh dan penakut," lanjutnya.

Arief melanjutkan, pemerintah takut akan larangan IMF dan Bank Dunia untuk melakukan kontrol modal (capital control). Karena jika modal dikontrol, IMF dan Bank Dunia menganggapnya sebagai hambatan liberalisasi modal yang keluar masuk ke negara-negara lain.

"Coba kalau berani lakukan kebijakan kontrol modal kayak yang dilakukan oleh China dan negara lain, pasti kekayaan Indonesia akan stay di Indonesia. Dan enggak perlu SUN dan obligasi pemerintah dijual ke orang asing. Dan enggak perlu utang ke luar negeri. Padahal dana yang dipinjamkan ke pemerintah Indonesia itu adalah dana hasil aktivitas ekonomi yang produk domestik bruto Indonesia. Nah itu namanya ekonomi kebodohan," kritiknya.

Sebelumnya Juru Bicara Ekonomi, Industri, dan Bisnis PSI, Rizal Calvary Marimbo menyoroti pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut bahwa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla saat ini sedang menjalani praktik ekonomi kebodohan. Rizal mengatakan bisnis Prabowo terkait dengan keluarga Rothschild dilakukan melalui adiknya Hashim Djojohadikusumo. Hashim sendiri merupakan pendiri Arsari Group yang berkantor pusat di Mid Plaza (Intercontinnental Hotel).

Rizal menilai, keluarga Prabowo dekat dengan bos-bos penguasa tambang dunia baik dari Rusia seperti Oleg Deripaska dan Reuben Brothers, investor Yahudi global asal London dan Robert Friedland.

"Dari Robert Friedland penguasa tambang emas dan tembaga raksasa di kawasan Mongolia ini Hashim berkenalan kepada Nat Rothschild. Dari sinilah keluarga Prabowo dikait-kaitkan dengan upaya Nat Rothschild untuk menguasai tambang-tambang di Indonesia," jelasnya.

Selain itu, Rizal mengungkapkan, Sandi juga merupakan perpanjangan tangan asing dalam merebut perusahaan-perusahaan dan aset-aset di Indonesia.

"Silakan telisik aliran-aliran dana asing yang masuk ke perusahaan-perusahaan mereka. Jadi siapa yang sebenarnya yang mempraktikan ekonomi kebodohan. Siapa sebenarnya yang menjadi perpanjangan tangan asing," jelasnya.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...