logo

GKR Hemas sumbang suara demi penggalangan dana untuk Palu dan Donggala

GKR Hemas sumbang suara demi penggalangan dana untuk Palu dan Donggala

DEMOKRASI - Gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala turut mengundang keprihatinan Gubernur DIY dan peserta Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018. Bertempat di Pasar Beringharjo dan disaksikan masyarakat DIY serta peserta JIBB 2018 (3/10/2018), Permaisuri Raja Kraton Yogyakarta tersebut berinisiasi bernyanyi di Batik Musik Festival JIBB untuk menggalang dana bantuan bagi masyarakat Sulawesi Tengah.

"Ya, ini tidak ada dalam agenda Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018. Apa yang kami lakukan merupakan perhatian dan rasa kebersamaan dari masyarakat Yogyakarta demi membantu masyarakat Palu, Donggala, dan sekitarnya. Kesedihan mereka ikut kami rasakan. Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik," tutur GKR Hemas.

Sejak tanggal 2 hingga 6 Oktober nanti, Yogyakarta menyelenggarakan JIBB 2018. Melanjutkan sukses penyelenggaraan pertama, maka sebagai tanggung jawab moral Yogyakarta dengan predikat Kota Batik Dunia diadakanlah kembali Jogjakarta International Batik Bienalle 2018 yang memang direncanakan untuk terselenggara dua tahun sekali (bienalle). Namun di tengah rangkaian agenda JIBB, panitia menyelenggarakan penggalangan dana.

Indonesia dianugerahi posisi geografis yang strategis. Secara global geologi, Indonesia dipengaruhi oleh pertemuan tiga lempeng besar yakni Lempeng Samudera Pasifik, Lempeng Benua Indo Australia, dan Lempeng Benua Eurasia. Kondisi geologi Indonesia tersebut merupakan suatu fenomena kekayaan bumi yang spesifik. Kondisi ini ditambah pula dengan letaknya yang dibelah garis equator, sebagian termasuk di utara dan sebagiannya lagi di selatan khatulistiwa.

Hemas menekankan meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam dan keindahan, namun dengan posisi tersebut ternyata negeri yang kita tempati ini merupakan ring of fire. Daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik.

Kondisi geografis, geologis, dan demografis Indonesia menyebabkan negeri ini dikenal sebagai laboratorium bencana. Terutama Indonesia bagian timur merupakan daerah rawan potensi gempa dan tsunami karena adanya tiga lempeng tektonik aktif.

"Dengan kondisi tersebut, pertanyaannya sudahkah rakyat kita siap. Seberapa dalam pemahaman masyarakat kita terhadap mitigasi bencana?," tanya Hemas.

Keseriusan kita semua dituntut kata Hemas. Sejauh mana mitigasi masuk dalam kurikulum pendidikan. Berapa besar alokasi anggaran pusat dan daerah untuk sosialisasi, penanggulangan bencana, rehabilitasi, hingga rekonstruksi.

Menurut Hemas, sudahkah tiap gedung-gedung dan fasilitas publik tertib memasang rambu-rambu mitigasi bencana. Sudahkah pemerintah pusat, daerah, hingga perusahaan swasta rutin melakukan simulasi bencana.

"Boleh jadi di komplek parlemen Senayan, kantor saya bekerja di Jakarta belum pernah diadakan simulasi. Sudahkah penyelenggara negara ini dari pusat hingga pejabat desa/kelurahan tanggap bencana," ujarnya.

"Jika sosialisasi masif sudah dilaksanakan maka diharapkan kesiapsiagaan menjadi perilaku keseharian sehingga terwujud budaya mitigasi bencana masyarakat Indonesia," lanjut Ketua Dekranasda DIY ini.

Selain itu, kepedulian kita bukan hanya pasca bencana, namun upaya preventif juga ditekankan agar meminimalkan korban jiwa. "Itulah sebab belakangan ini saya kerap mendorong sudah saatnya Indonesia memiliki Undang-Undang tentang kegeologian," pungkas GKR.

Hemas mengakhiri sambutannya dalam Festival Musik JIBB yang berhasil mengumpulkan Rp 24 juta lebih donasi para hadirin. Di mana pada hari sebelumnya, Senator DIY tersebut ikut memberikan sumbangan dari uang pribadi Rp 50 juta melalui Senator Sulawesi Tengah Nurmawati Bantilan untuk rakyat Sulawesi Tengah, khususnya di Palu dan Donggala.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...