logo

HEBOH, Kisah Korban Gempa Lahirkan Bayi Kembar 3, Kaget Diisukan Meninggal

HEBOH, Kisah Korban Gempa Lahirkan Bayi Kembar 3, Kaget Diisukan Meninggal

DEMOKRASI - Ibu dari bayi kembar tiga, korban gempa asal Sigi meninggal di Makassar.

Kabar itu menyebar sangat cepat di grup-grup WhatsApp. Menjadi notifikasi di ponsel banyak orang. Termasuk di Xiaomi tua milik saya. Saya membacanya pagi tadi, dengan menumpang jaringan wifi.

Wartawan juga kalang kabut. Informasi media sosial seperti itu harus diverifikasi secepat mungkin. Agar bila tidak benar, hoaks tidak menggelinding liar. Sekarang ujung telunjuk orang-orang sangat gampang menekan share. Maka kepada wartawanlah kita berharap kepastian.

Namun seandainya isu itu benar, data-data pendukung mesti dikumpul selengkap mungkin. Pembaca kini semakin mencintai detail. Mau tahu sampai ke hal-hal yang mikro.

Saya beruntung bisa mengecek kabar itu tanpa perlu berkeliling. Sebab sejak bayi-bayi itu keluar dari RS Daya, mereka berada di rumah kakak ipar saya. Berbaring berdampingan pada sebuah kamar di lantai dua. Ruangan yang penuh gambar kartun.

Saya sempat memotret mereka. Selimutnya tidak seragam. Bayi pertama dibalut kain bergambar ikan. Bayi kedua bermotif bulat-bulat. Bayi ketiga garis-garis. Hanya sarung bantal mereka yang serupa. Kuning dengan gambar kera.

Oh iya, baru satu yang punya nama. Yang paling tua. Yang laki-laki. Namanya Nugraha. Diambil dari nama dokter yang membantu persalinan. Kedua adiknya yang perempuan baru akan diberi nama begitu mereka tiba di Sulteng.

Malam ini mereka memang sudah akan dibawa ke Parigi Moutong. Menumpang sebuah Toyota Rush warna silver. Sebuah pikap menyusul di belakang.

Banyak yang memberi kado untuk ketiga anak manis itu ternyata. Butuh satu mobil lagi yang khusus membawa barang. Iring-iringan bakal melewati jalur Poso.

Rumah orang tua bayi kembar itu sebenarnya di Palu. Ada juga di Sigi. Namun sang ayah, Zainal Abidin memutuskan untuk ke Parigi saja dahulu. Belum berani ke Palu. Dan belum waktunya ke Sigi.

Lalu di perjalanan, siapa yang akan mengelus dan menyusui Nugraha dan adik-adiknya? Ya ibunya-lah. Atina, perempuan 30 tahun yang melahirkan usai bencana dahsyat itu dalam keadaan segar bugar.

Dia begitu bersemangat menceritakan proses persalinannya. “Naik Hercules dari Palu, kami tiba pukul tiga siang. Langsung dibawa ke rumah sakit. Malamnya operasi caesar,” ujarnya sembari mengunyah donat keju.

Atina yang seorang bidan itu dua hari tidak makan usai gempa. Makanya dia sangat lemah ketika hendak melahirkan.

Awalnya dokter dan perawat di RS Daya tak mengizinkannya memasukkan sesuatu ke lambung. Mau operasi harus puasa terlebih dahulu, begitu standarnya.

Tetapi Atina memohon. Dia tidak yakin bisa bertahan. Lidahnya pahit.

Permintaannya dikabulkan, walau hanya tiga sendok mi instan yang dicampur telur.

Atina juga mengisahkan ketika tanah bergetar, Jumat petang, 28 September itu, dia sedang di Palu. Jaga-jaga karena kandungannya sudah masuk bulan kesembilan.

Saat akan wudu, dia merasakan guncangan hebat. Jalan aspal yang lurus tiba-tiba menjadi zig-zag.

Atina terlempar. Di tangga beton. Untung ada Kaharuddin, sepupunya, yang menangkap. Betis Atina lecet. Tetapi diri dan kandungannya tak apa-apa.

Kecemasan tak selesai. Abizar, putranya yang berusia 4 tahun, sedang di pantai. Dibawa kerabatnya untuk menonton Festival Palu Nomoni. Pembukaan akan digelar malam. Sorenya gladi.

“Beruntung saat kabar tsunami itu muncul, dia segera dilarikan ke belakang tembok sebuah bangunan. Abizar selamat,” ucap Atina.

Pikirannya juga kalang kabut karena Aqilah, si sulung ada di Sigi. Lama baru ada kabar. Bocah 7 tahun itu baik-baik saja, meski sempat masuk rumah sakit karena trauma.

Sampai sekarang Aqilah belum tahu dirinya sudah punya tiga adik lagi selain Abizar. Panggilan telepon tak kunjung tersambung.

Aqilah dan Abizar juga yang menjadi alasan Atina dan keluarga mantap pulang malam ini. Mereka ikhlas hanya mendapati puing di Parigi. Asal bisa berkumpul lagi. Abizar sudah tiba lebih dahulu. Aqilah akan dijemput ayahnya dengan sepeda motor.

Musibah telah berlalu dan mereka berdoa tak akan mengalaminya lagi. Mereka bersyukur karena dipilih oleh Allah sebagai orang-orang yang selamat.

“Tanggal 28 saya dipaksa suami masuk rumah sakit. Karena sepertinya sudah akan melahirkan. Saya yang memang keras kepala menolak. Saya ngotot melahirkan tanggal 30, menyesuaikan jadwal SC. Pas sembilan bulan,” tutur Atina.

Rumah Sakit Anutapura, tempat Atina seharusnya melahirkan, termasuk bangunan yang rubuh karena gempa dan tsunami.

Untuk pertama kalinya Atina merasa beruntung menjadi orang yang keras kepala. Dia memprediksi bakal berada di antara reruntuhan andai jadi ke Anutapura hari itu.

Tetapi Atina juga semakin yakin tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Penolakannya ke rumah sakit, tangkapan sepupunya di ujung tangga, hingga suapan tiga sendok mi instan campur telur jelang masuk kamar operasi, adalah bagian dari skenario Tuhan menyelamatkannya.

Dia masih hidup. Bahkan sehat wal afiat ketika banyak yang meyakininya benar-benar meninggal hanya lantaran kabar angin di WA.

Jika semuanya lancar, beberapa puluh jam ke depan, Aqilah dan Abizar tak cuma akan memeluk ibu dan bapaknya, tetapi juga Nugraha dan dua gadis mungil yang belum memiliki nama. Tiga adik baru yang proses lahirnya tidak biasa. Dan keteguhan ibu mereka terindeks di Google. Diberitakan oleh banyak media.

Mari berdoa Allah tetap menjaga keluarga tangguh itu. Juga menjaga semua orang yang turut dalam doa itu.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...