logo

Sandi Soal Wacana Patung Jokowi: Kalau Menarik Pariwisata, Why Not

Sandi Soal Wacana Patung Jokowi: Kalau Menarik Pariwisata, Why Not

DEMOKRASI - Sejumlah warga Atambua, NTT memunculkan usul membangun patung gambar Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Kemenpar. Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno tak menyoal jika patung itu bisa meningkatkan pariwisata.

"Menyalahi aturan nggak? Kalau nggak menyalahi aturan saya nggak punya komentar. Tapi pada intinya, untuk meningkatkan pariwisata kan perlu situs-situs dan itu perlu dilihat apakah patung Pak Jokowi itu akan menarik pariwisata. Kalau menarik pariwisata bagus," ucap Sandiaga di Tebet, Jakarta Selatan, Senin (8/10/2018).

Eks Wakil Gubernur DKI itu juga menilai harus ada diskusi lebih dulu dengan tokoh sekitar soal wacana patung Jokowi di NTT tersebut. Dia mencontohkan usulan pembuatan patung atau nama jalan di Jakarta yang harus dibuka dalam sebuah forum lebih dulu.

"Biasanya FGD dulu pendapat tokoh-tokoh kan kayak nama jalan patung di DKI itu kan selalu harus ada usulan dari Dewan Kesenian Jakarta, harus ada usulan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Kalau misalnya sudah melewati fase itu dan dirasakan bisa menarik pariwisata masyarakat, why not," paparnya.

Sebelumnya, soal ide patung gambar Jokowi, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bisa saja dibuatkan patung manekin seperti yang ada di beberapa terminal bandara yang banyak dijadikan masyarakat spot foto. Setelah berkunjung ke Atambua, Arief mengatakan akan memperkuat pariwisata perbatasan (cross border tourism).

"Kita ingin jadikan Atambua sebagai destinasi utama cross border tourism setelah Kepri (Kepulauan Riau)," ujar Menpar Arief Yahya.

Arief mengatakan, seperti daerah lain di Indonesia, Atambua punya ragam keindahan alam serta kekuatan budaya yang bisa menjadi daya tarik. Tari Likurai yang sudah mendunia usai dipentaskan di upacara pembukaan Asian Games 2018 atau Kain Tenun NTT yang indah ialah beberapa produk budaya yang bisa menarik pengunjung.

"Tapi tampilannya harus dikurasi dengan baik, caranya adalah dengan melibatkan kurator tingkat nasional mulai dari koreografer atau desainer. Misalnya di Festival Fulan Fehan sudah melibatkan Eko Pece (Eko Nugroho) koreografer di upacara pembukaan Asian Games dan banyak koreografer lainnya. Tenun NTT bagus, kita bisa libatkan desainer andal begitu juga musik. Intinya semuanya harus level nasional supaya kebudayaan kita juga bisa dikurasi dengan level nasional," kata Arief. © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...