Headline

logo

SMRC Ungkap Data Prabowo Sulit Kalahkan Joko Widodo, Hasil Surveinya 3 Kali Pilpres

SMRC Ungkap Data Prabowo Sulit Kalahkan Joko Widodo, Hasil Surveinya 3 Kali Pilpres

DEMOKRASI - Joko Widodo (Jokowi) bukan saja kembali mempecundangi Prabowo Subianto dalam hasil survei elektabilitas yang digelar berbagai lembaga survei.

Terbaru, capres petahana itu menang mutlak atas capres yang diusung capres dari koalisi oposisi itu.

Kali ini, kenyataan itu diungkap dalam hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consunting (SMRC) yang dirilis, Minggu (7/10/2018).


Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan menyebut, dengan hasil survei terbaru SMRC menunjukkan peluang Jokowi memenangkan Pilpres 2019 untuk periode kedua kepemimpianya.

Djayani menyatakan, menilik pada tren elektabilitas, paslon yang mampu mempertahankan keunggulan elektabilitas sampai akhir pencoblosan, dipastikan bakal memenangi Pilpres.

Indikasi-indikasi seperti itu selalu berulang dari pengalaman pilpres yang lalu.

Demikian disampaikan Djayadi Hanan dalam Diskusi Tren Elektabilitas Capres: Pengalaman Menjelang Hari di kantor SMRC, Menteng, Jakarta.

Berkaca di Pilpres 2004, pasangan petahana Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi memiliki tren elektabilitas yang tak bagus beberapa bulan jelang pencoblosan.

Dalam Pilpres 2004 itu, elektabilitas mereka stagnan di kisaran 30 persen suara saja.

Sementara, elektabilitas paslon penantang saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) justru selalu berada diposisi di atas petahana.

Bahkan menurut dia, elektabilitas mereka berada di atas level 50 persen.

“Megawati saat menjadi petahana pada 2004 sudah kalah sejak beberapa bulan menjelang hari H, dan memang terbukti kalah pada hari H,” ungkap Djayadi.
Sementara itu, kata Djayadi, Pilpres 2019 kali ini justru berbanding terbalik. Elektabilitas pasangan petahana selalu unggul berada di atas rivalnya.

Djayadi menyebut, ada kemungkinan Jokowi-Ma’ruf akan memenangkan pilpres 2019 mendatang.

“Dari pengalaman tiga kali pemilihan presiden, calon yang suara dukungannya naik dan unggul terus sulit dikalahkan pada hari H,” ucapnya.

Dalam hasil survei temuannya, Jokowi-Ma’ruf Amin memang masih unggul dengan memperoleh suara sebesar 60,4 persen.

Sementara rivalnya, Prabowo-Sandiaga, berada di angka 28,7 persen suara saja.

Sedangkan responden yang sampai saat ini masih belum menentukan pilihannya hanya sebesar 9,8 persen saja.

Namun demikian, Djayadi menyebutkan kondisi masih bisa berubah lantaran masa kampanye masih beberapa bulan lagi.

Untuk itu, Jokowi disarankan harus mampu mempertahankan trend positif dalam penanganan faktor makro.Terutama mengenai isu ekonomi, penegakan hukum dan kondisi keamanan bangsa.

“Pertanyaannya, apakah kondisi makro tersebut dalam 6-7 bulan ke depan akan stabil, lebih baik atau malah sebaliknya?,” pungkasnya.

Untuk diketahui, survei ini dilaksanakan selama periode 7-14 September 2018 dengan melibatkan 1220 responden yang memiliki hak suara dalam Pemilu 2019 di seluruh Indonesia.

Adapun margin of error yang dipakai plus minus 3,05 persen dengan tingkat kepercayaan responden 95 persen.

Di sisi lain, quality control (QC) terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...
loading...