logo

17.000 Pelajar Jateng Terindikasi Mengidap HIV/AIDS Karena Seks Sejenis

17.000 Pelajar Jateng Terindikasi Mengidap HIV/AIDS Karena Seks Sejenis

DEMOKRASI - Sebanyak 17.000 pelajar di Jateng terindikasi mengidap HIV/AIDS karena melakukan hubungan seks sejenis atau laki seks laki (LSL). Temuan perlakuan menyimpang dilakukan remaja karena beranggapan hubungan seks sejenis tidak berisiko hamil.

"Perilaku menyimpang ini sudah mewabah di kalangan remaja. Mereka lebih suka hubungan sejenis laki seks laki (LSL) karena bujukan teman. Tanpa sadar akibatnya terkena HIV/AIDS," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Tengah Zainal Arifin saat diwawancarai merdeka.com, Kamis (29/11).

Zainal menyebut, perilaku menyimpang ini biasanya tidak terkontrol, mengingat remaja masih masa pubertas. Sehingga segala tindakan yang ada dalam pikiran bisa membuatnya terjerumus. Untuk itu, pihaknya mengimbau orang tua untuk mengawasi anaknya

"Makanya, saya imbau kepada orang tua untuk lebih intensif dalam memberikan perhatian, dan kasih sayang kepada anak. Jangan hanya yang perempuan, cowok juga," ujar Zainal.

Zainal menjelaskan untuk kasus penyebaran virus HIV/AIDS di Jateng cukup tinggi. Bahkan berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jateng menempati posisi kelima, setelah Bali dan DKI Jakarta, dalam penemuan kasus AIDS terbanyak di Indonesia.

"Untuk tingkat pertama tertinggi Jawa Timur, Papua, DKI Jakarta, Bali, dan Jawa Tengah sendiri mencapai 47.514 pengidap HIV/AIDS," ujarnya.

Dari data Kemenkes 47.514 pengidap HIV/AIDS yang berada di Jateng, jumlah sebanyak itu baru sekitar 23.603 kasus yang berhasil ditangani atau ditemukan KPA Jateng atau sekitar 49,7 persen. Dari 23.603 pengidap itu, sekitar 1.672 orang telah dinyatakan meninggal dunia akibat virus yang merusak sistem kekebalan tubuh itu.

"Jadi keinginan kami sih sebanyak-banyaknya bisa ditemukan. Jadi bisa kita awasi dan kontrol, sehingga tidak menularkan kepada orang lain, entah itu keluarga atau teman kencan pacar. Target yang dicanangkan pemerintah, kita sudah harus ending epidemic HIV/AIDS pada 2030 nanti," kata Zainal.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...