logo

Agen 'Penjualan' PRT Indonesia via Online Didenda Rp 210 Juta

Agen 'Penjualan' PRT Indonesia via Online Didenda Rp 210 Juta

DEMOKRASI - Agen pekerja rumah tangga (PRT) di Singapura yang pernah mengiklankan penjualan PRT asal Indonesia secara online melalui situs niaga Carousell, dijatuhi hukuman denda SG$ 20 ribu (Rp 210,8 juta). Agen PRT ini diketahui bekerja pada badan penyaluran PRT bernama SRC Recruitment.

Seperti dilansir media Singapura, Channel News Asia, Selasa (13/11/2018), Erleena Mohd Ali (41) menjadi yang pertama diadili terkait kasus penjualan PRT Indonesia secara online ini. Otoritas Singapura sebelumnya menyebut iklan online itu 'tidak bermartabat'.

Diungkapkan dalam persidangan, Erleena bekerja pada SRC Recruitment sejak Juni 2017 dan kebanyakan menangani PRT asal Indonesia. Pada September lalu, otoritas Singapura telah menangguhkan lisensi milik SRC Recruitment. Hal ini berarti, agen penyaluran PRT itu tidak bisa lagi menempatkan PRT asing untuk para majikan di Singapura.

Disebutkan bahwa Erleena biasanya mengiklankan biodata para PRT pada situs Netmaid. Namun pada Agustus tahun ini, dia mulai menggunakan akun pada situs niaga Caroussell, dengan nama profil 'maid.recruitment' yang memiliki tautan dengan email kerjanya.

Menurut berkas persidangan, Erleena telah meminta izin dari manajemen SRC Recruitment untuk mencari calon majikan melalui Carousell dan diberi lampu hijau.

"Terdakwa kemudian memposting para pekerja domestik asing yang tersedia untuk dipilih oleh majikan yang prospektif via Carousell dengan detail yang mengesankan para pekerja domestik asing sirip seperti komoditas yang bisa dibeli dan dijual," sebut jaksa Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM), Vala M.

Iklan online para PRT Indonesia itu diposting Erleena pada 1-17 September 2018. Pada 17 September, MOM melakukan penyelidikan terhadap postingan itu setelah menerima informasi.

Dalam persidangan, Erleena dinyatakan bersalah atas 10 dakwaan di bawah Employment Agency Licence Conditions, untuk iklan yang tidak sensitif yang menampilkan para pekerja domestik asing secara tidak pantas dan gagal memastikan nama lengkap dan nomor lisensi agen penyaluran PRT ditampilkan dalam iklan. Sedikitnya 89 dakwaan serupa masih dipertimbangkan jaksa.

Disebutkan dalam persidangan bahwa MOM telah mengirimkan tiga peringatan Employment Agency pada tahun 2014, 2016 dan 2018, yang isinya menyatakan agar bahwa badan-badan tenaga kerja menahan diri dari iklan tidak sensitif yang menampilkan PRT secara tidak pantas.

Peringatan tahun 2016 secara spesifik menyebutkan bahwa MOM mengetahui beberapa badan tenaga kerja menggunakan situs niaga seperti Carousell dan Gumtree. Peringatan semacam itu biasanya juga dikirim via email kepada para pegawai agen-agen penyaluran PRT.

Dalam pembelaannya, Erleena yang tidak didampingi pengacara ini, menyatakan dirinya kini pengangguran yang harus menghidupi orangtuanya yang lanjut usia dan dua dari empat anaknya. Pengadilan menjatuhkan hukuman denda SG$ 20 ribu untuknya.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...