logo

Jangan Cuma 'Gimik', Jokowi-Prabowo Disarankan Sebar Buku Visi-Misi

Jangan Cuma 'Gimik', Jokowi-Prabowo Disarankan Sebar Buku Visi-Misi

DEMOKRASI - Masa kampanye Pilpres 2019 sudah berjalan selama 7 minggu dan capres-cawapres, baik Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, cenderung menarik simpati dengan membuat 'hype' berupa istilah-istilah tertentu dalam kampanyenya. Kedua pasangan ini masih disebut jarang memaparkan visi-misinya.

Setidaknya, ada istilah-istilah tertentu yang disampaikan mereka, seperti 'politikus sontoloyo' dan 'politik genderuwo' dari Jokowi, istilah 'budek dan 'buta' dari Ma'ruf, 'tampang Boyolali' dari Prabowo, dan 'tempe setipis kartu ATM'-nya Sandi. Menurut dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, semestinya diksi-diksi tersebut dihindari.

"Dua kandidat ini tidak mampu menahan diri untuk tidak mengeluarkan statement yang menurut saya remeh-temeh. Kok justru kedua kandidat ini memosisikan dirinya sebagai timses. Jadi cebong, kampret, sontoloyo, tampang Boyolali itu harusnya domain timses," ujar Adi saat dihubungi, Senin (12/11/2018).

Padahal, kata Adi, tingkat pengetahuan masyarakat akan visi-misi Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi masih rendah--di angka 18-20 persen. Keduanya harus memaparkan visi-misi supaya masyarakat mengetahui arah pembangunan bangsa pada 2019-2024.

"Mestinya Pak Jokowi dan Pak Prabowo harus membawa buku visi-misi yang sudah didaftarkan ke KPU. Dicetak saja sebanyak mungkin. Kalau datang ke komunitas pasar, itu saja dikasihnya biar orang bisa mengukur apa janji politiknya. Kalau Pak Prabowo yang visi-misinya disebut 4 pilar kesejahteraan rakyat. Artinya, setiap blusukan kepada masyarakat, biar ada simbiosis mutualisme, orang bertanya apa yang akan dilakukan mereka," kata Adi.

Sementara itu, diksi-diksi yang disampaikan Jokowi-Amin ataupun Prabowo-Sandi, menurut Adi, semestinya disampaikan tim sukses saja. Kedua kandidat dinilai masih menggunakan istilah yang spontan belaka.

"Kalau saya melihat pola kampanye dua kandidat ini pakai jurus mabuk, pakai jurus suka-suka. Jadi lebih cenderung menyajikan suatu hal yang artifisial dan spontanitas, tapi tidak terencana. Dan kalau mau dicek, masyarakat yang ngerti visi-misi Pak Jokowi dan Pak Prabowo cukup rendah, persentasenya di angka 18 sampai 20 persen," paparnya.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...