logo

Kolaborasi Apik Tim SAR: Antara Teknologi dan Skill Penyelam

Kolaborasi Apik Tim SAR: Antara Teknologi dan Skill Penyelam

DEMOKRASI - Tim SAR gabungan bekerja 24 jam untuk mencari korban penumpang pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di Karawang, Jawa Barat. Teknologi mutakhir dan skill (keahlian) penyelam yang mumpuni berkolaborasi dalam proses evakuasi.

Pesawat itu ditumpangi 189 orang, termasuk kru pesawat Lion Air. Rute penerbangan itu dari Jakarta menuju Pangkalpinang pada Senin (29/10) pagi.

Data dari Basarnas, perincian jumlah personel gabungan terdiri atas 201 orang Basarnas, 40 orang TNI AD, 456 orang TNI AL, dan 15 orang dari TNI AU. Ada juga unsur lainnya, yaitu 58 anggota Polri, 30 orang KPLP, 18 orang dari Bea-Cukai, 30 orang dari PMI, dan 10 orang dari Bakamla.

Dalam pencarian tersebut, tim SAR melaksanakan search pattern (pola pencarian) creeping di sektor atau prioritas 1. Sedangkan pada search area prioritas 2, menggunakan pola pencarian paralel.

Pada sektor 1, kapal-kapal yang beroperasi dilengkapi dengan alat pendeteksi bawah air, seperti Multibeem Echosounder, Side Scan Sonar, ROV, dan Ping Locator. Ada lima kapal yang dilengkapi peralatan tersebut, masing-masing KRI Rigel, Rubber Boat (RB) 206 Kantor SAR Bandung, Baruna Jaya BPPT, Kapal Dominos, dan Teluk Bajau Pertamina.

Sektor 1 ini juga mengerahkan penyelam-penyelam dari Basarnas Special Group (BSG), Kopaska, Taifib, Marinir, dan penyelam-penyelam lainnya. Sementara itu, di sektor 2 terdapat 40 kapal dari Basarnas, TNI-Polri, Kementerian Perhubungan, Polair, KPLP, Bea-Cukai, ditambah kapal-kapal nelayan dan potensi SAR lainnya.

Saat pencarian hari ketiga, Kamis (1/11), alat Remote Operated Vehicle (ROV) yang dibawa KR Baruna Jaya menangkap serpihan-serpihan Lion Air PK-LQP. Serpihan itu tampak berada di dasar laut.

Selain itu, sinyal black box tertangkap transponder USBL berada pada koordinat S 05 48 48.051 - E 107 07 37.622 dan koordinat S 05 48 46.545 - E 107 07 38.393. Penyelam TNI AL Sertu Hendra pun berhasil menemukan flight data recorder (FDR) black box atau alat rekam penerbangan pesawat itu.

"Kami ikuti alat, kami kecilkan areanya, lalu pada tempat yang alatnya menimbulkan bunyi sensitif kami gali lagi dan ternyata kami mendapatkan black box," ujar Hendra dari Korps Marinir, Kamis (1/11/2018).

Hendra mengaku mengalami kesulitan di dasar laut karena banyaknya lumpur membuat jarak pandang penglihatan susah. Apalagi arus bawah laut begitu kencang, sehingga tali yang dibawa terus dipegang agar tidak terlempar.

Serpihan Lion Air di dasar laut (Matius Alfons/detikcom)

Tapi semangat penyelam sangat tinggi. Mereka terus mengikuti alat pendeteksi tersebut. Akhirnya mereka berhasil mendapatkan black box di kedalaman sekitar 35 meter.

"Tapi kami terus, kami ikuti alat. Kami kecilkan areanya, lalu pada tempat yang alatnya menimbulkan sensitif tersebut kami gali-gali, dan ternyata kami mendapatkan black box," kata Hendra.

Selain black box, penyelam tersebut berhasil menemukan menemukan bagian besar pesawat itu. Namun bagian tersebut terlalu berat sehingga butuh alat khusus.

"Kita menemukan juga bagian pesawat yang lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Itu kelihatannya bagian bodi, mungkin begitu ya, kulitnya. Panjang 1,5 meter, lebarnya setengah meter. Kemudian ada barang yang lebih besar, cuma belum bisa kita angkat (karena) cukup berat," ujar Kabasarnas Marsekal Madya M Syaugi di Kapal Baruna Jaya I BPPT di perairan Karawang, Kamis (1/11).

Hasil pencarian mulai hari pertama dan ketiga sudah ada 65 kantong jenazah yang diserahkan tim pencari ke RS Polri. Jenazah akan diidentifikasi oleh tim DVI untuk mengetahui identitasnya.

"Sampai malam hari ini kita lihat sudah 65 kantong jenazah yang kita serahkan ke Tim DVI RS Polri Kramat Jati. Kita tetap bersinergi dan tetap semangat," ujar M Syaugi.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...