logo

Laju Ekonomi Stagnan, Pemerintah Akui Kurang Pacu Ekspor

Laju Ekonomi Stagnan, Pemerintah Akui Kurang Pacu Ekspor

DEMOKRASI - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui upaya mendorong ekspor masih belum maksimal. Hal itu tercermin yang mengungkapkan kinerja ekspor tak bisa menopang ekonomi secara signifikan, sehingga hanya tumbuh di level 5,17 persen pada kuartal ketiga lalu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal III lalu, ekspor tumbuh 7,52 persen secara tahunan dan menyumbang 22,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di sisi lain, impor melonjak 14,06 persen dan menekan PDB sebesar 22,81 persen.

Darmin sangat menyayangkan kondisi ini sebab pertumbuhan ekspor tahun lalu bisa menyentuh 20 persen dengan pertumbuhan impor yang hampir seimbang. "Jadi memang kami tidak bisa mendorong ekspor secepat yang kami harapkan," ujar Darmin, Selasa (6/11).

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini melanjutkan, pelemahan ekspor disebabkan melesunya permintaan dari negara-negara mitra ekspor sebagai imbas ketidakpastian global. Tak hanya itu, perang dagang yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan China juga dianggap menjadi biang kerok perlambatan ekspor.

Namun, Darmin menyadari pemerintah tak perlu melulu menyalahkan kondisi global. Menurut dia, salah satu faktor pelemahan ekspor adalah struktur industri yang belum dinamis.

Menurut dia, sebagian besar impor merupakan bahan baku dan barang modal, di mana hal itu adalah konsekuensi dari menggeliatnya sektor manufaktur dan menjadi bukti pertumbuhan ekonomi yang bagus. Sayangnya, impor itu tidak bisa diterjemahkan menjadi ekspor bernilai tinggi lantaran minimnya penciptaan nilai tambah di Indonesia.

Bahkan, pertumbuhan industri manufaktur Indonesia juga terlihat lesu. Data BPS mencatat, industri non migas hanya tumbuh 5,01 persen secara tahunan di kuartal lalu, atau melemah dari tahun sebelumnya 5,46 persen.

"Memang ekspor akan bagus kalau industri makin dinamis, ini yang saya maksud bahwa kami belum bisa dorong ekspor begitu cepat," terang dia.

Kendati demikian, Darmin masih menilai pertumbuhan ekonomi kuartal III masih baik di tengah risiko yang melanda Indonesia seperti perang dagang, normalisasi kebijakan moneter AS, dan meningkatnya harga minyak mentah. Ia optimistis pertumbuhan hingga akhir tahun bisa mencapai 5,2 persen, sesuai target usungan pemerintah.

"Karena pertumbuhan kita tetep relatif baik, syukur-syukur akhir tahun bisa 5,2 persen," imbuh dia.

Sementara itu, Ekonom PT Bank Maybank Indonesia Tbk Myrdal Gunarto mengatakan kontribusi ekspor netto di dalam PDB turun drastis 48,25 persen dari Rp58,35 triliun di tahun lalu ke Rp30,2 triliun, sehingga memang dampaknya tak begitu signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Ia meramal pertumbuhan ekspor di kuartal IV masih sulit terjadi lantaran masih tertekan sentimen perang dagang dan pertumbuhan ekonomi China yang masih akan moderat seperti kuartal kemarin. Adapun, China merupakan mitra dagang utama Indonesia, di mana 15,14 persen dari ekspor Januari hingga September kemarin.

"Permintaan global juga akan tetap moderat seiring pemulihan pertumbuhan ekonomi," papar dia.

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III di angka 5,17 persen atau membaik dibanding periode sama tahun lalu 5,07 persen. Namun, angka ini melemah dibandingkan kuartal II yang mencapai 5,27 persen.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...