logo

Ma'ruf Amin: Saya Sebenarnya Tidak Mau Jadi Cawapres

Ma'ruf Amin: Saya Sebenarnya Tidak Mau Jadi Cawapres

DEMOKRASI - Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin bercerita bahwa awalnya dirinya enggan untuk menerima pinangan sebagai calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo di Pilpres 2019.

Ia menyatakan sudah lebih nyaman menjabat sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)  ketimbang harus maju sebagai cawapres di Pilpres.

"Saya sebenarnya tidak mau jadi cawapres, saya lebih nyaman jadi Rais Aam PBNU dan Ketua Majelis Ulama Indonesia," kata Ma'ruf saat menghadiri launching buku 'Arus Baru Ekonomi Indonesia' di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (13/11).

Diketahui, sebelum menyandang status sebagai cawapres, Ma'ruf menjabat sebagai Rais Aam PBNU sejak tahun 2015 lalu. Ia pun mengundurkan diri dari posisinya itu dan otomatis wakilnya Miftachul Akhyar menjabat sebagai penggantinya.

Meski begitu, Ma'ruf akhirnya berpikir ulang terhadap keputusan awalnya itu. Ia  mengklaim mendapatkan dukungan dan dorongan dari berbagai ulama untuk maju sebagai cawapres mendampingi Jokowi.

"Akhirnya tapi didorong oleh banyak pihak, oleh banyak para ulama-ulama untuk tetap maju," kata dia.

Selain itu, Ma'ruf turut menyinggung banyaknya orang menilainya tak perlu maju sebagai cawapres karena faktor usia yang tak lagi muda.

Ia lantas berseloroh bahwa usianya baru separuh baya dan belum masuk dalam ketegori tua menurut lembaga WHO.

"Data WHO itu umur tua itu katanya dari mulai dari 80 sampai 100 tahun, kalau saya masih setengah baya 75 tahun. Jadi kalau itu saya belum tua sebenarnya baru setengah baya," candanya.

Enggan Jadi Ekonom, Tetap Jadi Kiai

Sain itu, Ma'ruf menyatakan bahwa dirinya enggan menjadi seorang ekonom meski sudah sering berbicara banyak mengenai isu-isu perekonomian.

Ia menegaskan bahwa dirinya lebih menyukai menyandang status sebagai kiai ketimbang sebagai ekonom

"Saya walaupun saya bicara ekonomi tapi saya tak akan menjadi ekonom. Saya tetap saya menjadi Kiai jadi itu yang predikat yang berangkat kepada saya," kata dia.

Meski demikian, Ma'ruf berjanji bakal menerapkan pemikiran arus baru ekonomi Indonesia yang diusungnya ketika menjabat sebagai wapres sebagai antitesis dari ekonomi neoliberal.

Menurutnya, ekonomi neoliberal telah terbukti membuat kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin melebar.

"Ini merupakan ekonomi yang berkeadilan, ekonomi kerakyatan untuk menghilangkan berbagai kesenjangan baik antara kaya miskin, antar pusat dan daerah, antar satu daerah dengan daerah lain juga untuk menghilangkan disparitas antara produk-produk nasional dengan produk luar sehingga tak terjadi kesenjangan," kata dia.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...