logo

Mengapa Pasar Jadi Ajang Kampanye di Pilpres 2019?

Mengapa Pasar Jadi Ajang Kampanye di Pilpres 2019?

DEMOKRASI - Capres nomor urut 01, Joko Widodo, dan cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno, gencar menyambangi pasar tradisional di masa kampanye dan 'bersahutan' soal harga bahan pokok. Mengapa harus ke pasar?

Bagi pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, kegiatan kampanye di pasar merupakan bagian dari upaya untuk menjawab persoalan ekonomi yang tengah dihadapi bangsa. Menurut Hendri, berbagai survei menyatakan bahwa ekonomi menjadi salah satu permasalahan utama RI.

"Jadi, kalau dari berbagai survei, termasuk Kedai Kopi itu, kalau ditanya permasalahan Indonesia, jawabannya yang pertama selalu ekonomi. Ekonomi itu kalau diturunin lagi dimensinya itu yang biasanya disebut adalah harga sembako, tarif dasar listrik, dan lapangan pekerjaan. Nah harga-harga sembako ini jadi penting, makanya kemudian harus dijaga isunya," kata Hendri kepada wartawan, Sabtu (24/11/2018).

Dalam hal ini, Hendri menilai Jokowi dan rivalnya, Sandiaga, menawarkan cara pandang yang berbeda. Jokowi, sebut Hendri, selalu meyakinkan masyarakat bahwa harga kebutuhan pokok terjangkau. Sementara Sandiaga melontarkan pernyataan yang berbeda.

Namun persamaan di antara keduanya ialah sangat memperhatikan kondisi ekonomi. Hendri mengatakan situasi ekonomi memang paling tepat digambarkan lewat pasar.

"Kan kalau kita lihat Pak Jokowi kalau ke pasar yang dikasih lihat adalah harganya masih terjangkau. Sementara Mas Sandi kalau ke pasar yang dikasih lihat harga mahal. Jadi dua-duanya memang menggarisbawahi ada kondisi ekonomi yang harus digambarkan situasinya. Paling enak memang menggambarkan situasi ekonomi itu dari pasar," paparnya.

Lantas, apakah yang dilakukan Jokowi maupun Sandiaga sudah tepat? Hendri menilai tiap kubu memang memiliki fungsi kampanye tersendiri.

"Kelihatannya memang Pak Jokowi sangat concern dengan apa yang dikatakan oleh Sandi. Misal, Sandi petai, ya, Jokowi petai. Sandi tempe, Jokowi juga tempe. Nah, ini memang gaya komunikasinya saja sih yang harus diubah. Dalam fungsi kampanye, ada tiga hal yang bisa dilakukan, baik oleh petahana maupun oposisi. Yang pertama adalah acclaim, attack, dan defense," ujar Hendri.

"Petahana ini biasanya acclaim dan defense. Nah, ini yang dilakukan Pak Jokowi untuk membuktikan harga-harga tidak mahal. Kemudian, kalau dia kemudian mengikuti Sandi soal petai atau tempe, ya itu defense. Sementara Sandi memang dia attack. Dia menyampaikan hal-hal yang menggambarkan kontra dengan pemerintah," pungkas dia.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...