logo

Poster Jokowi Berpakaian Raja, Ide Cerdas tapi Konyol

Poster Jokowi Berpakaian Raja, Ide Cerdas tapi Konyol

DEMOKRASI - Pengamat politik Afriadi Rosdi mengatakan, sejumlah pihak tidak bisa serta merta menuduh orang yang berada di balik pemasangan poster capres Jokowi mengenakan pakaian raja, adalah lawan politiknya.

Karena, sangat terbuka kemungkinan ide tersebut berasal dari pendukung Jokowi. Hanya saja, jika itu dilakukan pihak Jokowi, berarti orang tersebut tidak sensitif dengan kultur Jawa dan alam demokrasi.

"Jika pihak yang berada di balik pemasangan poster itu pendukung pasangan calon presiden Prabowo Subianto - Sandiaga, maka ini kasus black campaign yang sangat cerdas tapi konyol," ujar Afriadi kepada JPNN, Senin (19/11).

Afriadi menilai cerdas, karena mereka bisa menemukan ide yang seolah-olah bagus bagi Jokowi, tapi pada dasarnya sangat potensial membangkitkan antipati dan kemarahan.

"Tapi sekaligus konyol, karena ide tersebut sangat gampang dipatahkan. Padahal tenaga, energi dan biaya yang dikeluarkan sangat besar," ucapnya.

Ketua Pusat Kajian Literasi Media ini berharap aparat terkait dapat segera mengungkap kasus yang ada, agar menjadi terang benderang.

"Tapi, apa pun hasilnya, dari kasus ini ada pelajaran berharga yang dapat ditarik. Bahwa pemakaian simbol adalah sesuatu yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan politik," ucapnya.

Menurut Afriadi, simbol memiliki muatan psikis, dimana sangat gampang memantik sisi emosional pemilih, baik emosional yang bersifat positif maupun negatif.

Afriadi juga menyatakan,dalam politik identitas simbol menjadi pembeda antarkelompok. Misalnya, pendukung Prabowo diprediksi banyak mengeksplorasi simbol Tauhid dan simbol keislaman lain.

Sementara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin, lebih banyak memainkan simbol yang berkaitan dengan kultur asli Indonesia dan simbol Islam khas Indonesia.

"Nah, dalam hal ini masyarakat tentunya sangat berharap pasangan calon lebih mengedepankan adu program dan visi memajukan Indonesia, daripada sibuk eksplorasi simbol," tuturnya.

Afriadi mengakui, eksplorasi simbol memang penting untuk menjalin kedekatan emosional dengan pemilih. Tapi, sebaiknya porsi yang ada lebih sedikit dibanding porsi kampanye adu program dan visi.

"Kelompok swing voters, pemilih rasional, sedang menunggu kampanye program, visi misi. Mereka mungkin sudah muak dengan permainan emosi. Ini harus disasar oleh setiap calon agar angka golput bisa berkurang," pungkas Afriadi.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...