logo

Saling Tuduh Rai Gedek, Maling Tak Tahu Malu

Saling Tuduh Rai Gedek, Maling Tak Tahu Malu

DEMOKRASI - Prabowo Subianto berbicara tentang elite bangsa Indonesia yang punya rai gedek (tidak tahu malu) karena suka nyolong tapi mukanya sok tak berdosa. Pernyataan capres nomor urut 02 ini membuat kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno saling lempar tuduhan.

Pernyataan Prabowo soal rai gedek disampaikan di hadapan ribuan warga Muhammadiyah DIY di Hotel Prima Jalan Magelang Km 11, Sleman, Rabu (28/11/2018). Awalnya Prabowo mengaku mengetahui rakyat saat ini sedang sangat tidak suka pada pemimpin-pemimpin yang korupsi. Menurutnya, rakyat sekarang tidak bodoh lagi. Bahkan orang-orang di pelosok-pelosok semua punya gadget. Mereka tahu sekarang dan mengerti apa yang terjadi pada bangsanya.

"Mereka tahu elite di Jakarta itu pinter tapi juga suka minterin, pinter... pinter mlintir, pinter... pinter nyolong. Untuk nyolong itu harus pinter dan nekat, dan mukanya tebal, apa istilah orang Jawa? (Prabowo bertanya ke hadirin, lalu serempak dijawab: 'rai gedek'. Lalu Prabowo melanjutkan orasi). Rai gedek," kata Prabowo, di Hotel Prima Jalan Magelang Km 11, Sleman, Rabu (28/11/2018).

"Saya lihat elite-elite di Jakarta itu rai gedek bener, mukanya itu lo, seolah-olah ndak berdosa. Padahal rakyat nggak bodoh, rakyat tahu," lanjutnya.

Kubu Jokowi pun menanggapi pernyataan Prabowo. Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Raja Juli Antoni, menilai Prabowo sedang menyindir dirinya sendiri.

"Pak Prabowo sedang menyindir diri sendiri, ya? Atau menyindir keluarga Cendana dalam kasus Yayasan Supersemar?" kata Raja Juli, yang juga Sekjen PSI itu, Rabu (28/11).

Partai Gerindra pun menjelaskan maksud pernyataan sang ketum soal elite bangsa yang punya rai gedek (tak tahu malu) suka mencuri. Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade, menyebut seharusnya pernyataan Prabowo dijadikan introspeksi bagi semua pihak.

"Pak Prabowo itu bicara karena keprihatinan beliau terhadap pernyataan Ketua KPK (Agus Rahardjo) kemarin ya, yang korupsi sekarang ini sudah warning. Beliau prihatin korupsi sekarang nggak berhenti-henti, makin merajalela. Bahkan hari ini pun ada OTT hakim PN Jaksel. Ini harusnya jadi introspeksi," ungkap Andre.

Partai pendukung Jokowi, Hanura, menduga Prabowo sedang menyinggung Presiden RI ke-2 Soeharto, yang merupakan mantan mertua eks Danjen Kopassus itu. Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah menuding Prabowo tegas melemparkan tudingan kepada Soeharto lewat pernyataannya.

"Apakah ini merupakan pengakuan dan tudingan bahwa Soeharto juga rusak mentalnya? Kalau iya, kok tega-teganya Prabowo menista dan menghujat ayah kandung Titiek Soeharto (Siti Hediati Hariyadi) dan Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra)," ungkap Inas.

"Walaupun sudah bercerai dengan Titiek Soeharto, bukankah mereka tersebut sekarang ini sekutu Prabowo dalam Pilpres 2019? Artinya, secara terang-terangan Prabowo menuding kepribadian Soeharto rusak, sehingga menyebabkan korupsi merajalela hingga menjadi penyakit yang merongrong kehidupan bangsa hingga hari ini," imbuhnya menyindir.

Sementara itu, menurut sekutu Gerindra, PAN, rai gedek yang dimaksud Prabowo ditujukan kepada elite yang sering mencitrakan diri seolah-olah bersih. Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo menyebut pernyataan Prabowo tersebut tidak merujuk ke satu-dua orang, melainkan kepada kalangan elite politik dan bisnis.

"Di antara yang 'bermain' ini ada yang sering mencitrakan diri seolah-olah bersih. Dugaan saya, merekalah yang dimaksud Prabowo. Bahasa Jakarta-nya, 'gue kan tahu kelakuan elo, kok elo sok bersih'," kata Dradjad.

Kemudian Partai NasDem mengomentari soal rai gedek dengan pernyataan sindiran kepada Prabowo. Ketua DPP Partai NasDem Irma Suryani Chaniago mengatakan rai gedek itu orang yang masih ngotot menjadi presiden padahal sudah berkali-kali gagal.

"Biasanya yang disebut rai gedek itu orang yang sudah berkali-kali pingin jadi presiden tapi selalu gagal, tapi masih ngotot maju," sebut Irma.

Kemudian Partai Golkar justru menyinggung PKS dari pernyataan Prabowo itu. Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syaidzily mengungkit soal mantan anggota DPR dari Fraksi PKS, Yudi Widiana, yang pernah menggunakan kode bahasa Arab dalam kasus suap pembangunan jalan di Maluku dan Maluku Utara.

"Bukan hanya tidak malu atau rai gedek, yang korupsinya menggunakan kode-kode bahasa agama juga, Pak. Pakai bahasa liqo dan juz segala macam. Bahkan masih ada yang tidak mau mengundurkan diri dari jabatan sebagai salah satu pimpinan legislatif dan sudah ditetapkan tersangka, saat ini belum mau mundur dari jabatannya," ucap Ace.

Tak terima dengan pernyataan Golkar, PKS balik menyerang partai yang besar di era Orde Baru tersebut. PKS menyebut Golkar perlu becermin.

"Sepertinya dia (Golkar) perlu ngaca pakai cermin besar. Mungkin dia lupa siapa juara dan runner-up partai yang dianggap paling korup dan paling banyak kepala daerahnya ditangkap KPK," sebut Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.

"Mungkin dia juga lupa kader partai mana yang korupsi pengadaan Alquran? Sebaiknya semua melakukan muhasabah agar Revolusi Mental yang dicanangkan Pak Jokowi tidak sekadar slogan kampanye," tegas Suhud.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...