logo

Reuni 212 dan Kelas Menengah Muslim

Reuni 212 dan Kelas Menengah Muslim

DEMOKRASI - Lema "kelas menengah muslim" merujuk pada masyarakat yang memiliki dua entitas sekaligus, yaitu "kelas menengah" dan "muslim". Menurut Asian Development Bank (ADB), kelas menengah adalah kelompok penduduk yang memiliki pengeluaran 2 hingga 20 dolar AS per kapita per hari. ADB mencatat bahwa jumlah kelas menengah muslim ini cukup banyak, yakni sekitar 74 juta jiwa, namun ada juga yang menyebutkan jumlahnya sekitar 45 juta jiwa. Jika kita mengambil jumlah paling sedikit saja, sudah mencapai hampir seperlima populasi penduduk Indonesia. Jika dilihat dari sisi ekonomi saja, ini adalah pangsa pasar yang cukup menggiurkan.

Kelas menengah muslim, secara singkatnya, adalah terminologi untuk menyebut mereka yang memiliki daya beli yang cukup baik dan religiusitas --ajaran agama yang dianggap nilai yang juga turut mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku mereka. Dengan daya beli yang baik, perilaku ekonominya pun tidak lagi sesederhana persoalan halal atau haram. Namun, juga diisi citra dan hasrat di dalam semua produk yang dikonsumsi.

Citra dan hasrat inilah yang kemudian dianggap sebagai bagian dari eksistensi dari keberislaman dan kasalehan yang muncul dari kelas menengah muslim ini. Ini bisa dibuktikan melihat beberapa produk konsumsi yang menjadi penanda dalam kelas menengah muslim, dalam setiap produknya tidak hanya menjual isinya namun turut disertakan di dalamnya citra keislaman secara bersamaan. Jadi, Islam dalam kalangan kelas menengah muslim adalah juga bagian dari penanda pola konsumtif mereka.

Reuni 212

Memperbincangkan persoalan reuni aksi 212 dalam bingkai kelas menengah muslim adalah hal yang menarik. Hal yang menarik dalam reuni tersebut, dari sudut kelas menengah muslim, adalah keterlibatan mereka yang cukup signifikan, bahkan sejak aksi 212 pada 2016. Walaupun banyak diklaim oleh beberapa pengamat bahwa aksi 212 ini di satu sisi berhasil menjembatani batas kelas dalam masyarakat selama ini, tapi di sisi yang lain aksi ini juga memunculkan persoalan baru yaitu menguatnya politik identitas, khususnya identitas agama.

Saat politik identitas semakin mendapatkan tempat di hampir seluruh lapisan kelas masyarakat muslim, partisipasi masyarakat kelas menengah muslim dalam Gerakan 212 tetap menjadi perbincangan yang menarik. Sebab, disukai atau tidak, masyarakat dari kelas menengah inilah yang cukup aktif mengeksploitasi gerakan ini untuk kepentingan mereka. Kelas menengah muslim memanfaatkan politik identitas yang sedang menguat ini untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut dengan berbagai bentuk kreativitas, selain para komprador politik yang juga memanfaatkan untuk meraup konstituen dari masyarakat terlibat dalam aksi tersebut.

Kita mungkin tidak akan lupa fenomena film 212: The Power of Love yang diproduksi dan dipasarkan di beberapa bioskop di Tanah Air pada pertengahan tahun ini. Film ini adalah contoh paling gamblang dalam membuktikan bahwa kelas menengah muslim cukup memanfaatkan aksi 212 ini untuk kepentingan mereka, khususnya ekonomi.

Saat film itu dirilis pada awal Mei 2018, ada satu pertanyaan yang terbersit dalam benak saya, yaitu selain untuk merawat ingatan akan aksi 212 pada 2016, keuntungan apa selain ekonomi yang didapatkan terutama para pembuat film tersebut? Mungkin jawaban manajemen produksi film tersebut bisa bermacam-macam, tapi ada hal yang menarik dan bisa menjelaskan sedikit dari jawaban untuk pertanyaan tersebut, yakni kehadiran aktor dan aktris yang terlibat dalam pembuatan film tersebut.

Beberapa nama artis terkenal memang terlibat dalam pembuatan film tersebut, seperti Arie Untung, Irfan Hakim, Fauzi Baadilah, Neno Warisman, dan masih banyak lagi. Keterlibatan artis yang nama-namanya tenar di jagat hiburan ini disebut-sebut sebagai aksi solidaritas mereka untuk mengingat bahwa umat muslim pernah bersatu dalam satu isu untuk "membela Islam". Penegasan eksistensi keberislaman atau kesalehan, berbingkai solidaritas, memang populer sekarang ini.

Kehadiran dan keterlibatan beberapa artis terkenal inilah yang menjadikan film 212: The Power of Love salah satu contoh dari pencitraan dalam keislaman kelas menengah ini. Film ini selain berjualan tiket yang jelas memberikan keuntungan bagi produsen film, juga memberikan --atau memasukkan-- citra dan hasrat keislaman bagi mereka yang merasa terlibat di dalam aksi 212. Citra dan hasrat tersebut dimaknai sebagai bagian dari keberislaman atau kesalehan mereka, karena tidak hanya menjadi penanda keterlibatan, atau menjadi bagian, pada aksi yang diklaim sebagai aksi umat Islam, tapi juga mempertegas akan keberislaman mereka.

Dalam Aksi 212 sampai reuni ke-2 tahun ini, yang dilaksanakan kemarin, tingkah dan perilaku keislaman dari kelas menengah muslim ini sebenarnya tidak banyak berubah. Terlepas apakah ada atau tidak agenda politik dalam aksi tersebut, kelas menengah muslim yang ikut dalam aksi ini masih memandang, apa yang mereka lakukan ini adalah bagian dari kecintaan mereka pada agama Islam. Inilah apa yang disebut kaum Stoik di era Helenis dengan oikeiosis, yang bisa dimaknai sebagai proses identifikasi diri sebagai bagian satu kelompok manusia. Fungsi inilah yang secara bersamaan berkelindan dengan pencitraan dan hasrat keberagamaan yang tinggi dalam kelas menengah muslim.

Jika citra dan hasrat ini merasuki sampai ke perilaku keberagamaan, maka yang muncul adalah kedangkalan atau kesalehan yang semu. Kesalehan seperti inilah yang mudah memainkan komodifikasi agama sebagai bagian dari upaya mengeruk keuntungan. Inilah yang juga terjadi dalam aksi reuni 212, sebab tidak semua mereka yang hadir di sana adalah mereka yang paham akan permasalahan politik. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan aksi reuni ini sebagai bagian dari memunculkan citra keislaman mereka saja. Namun, pada saat yang sama meraup keuntungan ekonomis dari aksi tersebut, tidak ada agenda politik sama sekali.

Dari Aksi 212 pada 2016 hingga Reuni Aksi kemarin, memang dimaknai oleh masing-masing dari mereka yang mengikutinya, sehingga membaca persoalan ini tidak selalu harus dari kacamata politik. Banyak hal yang berkelindan di dalam aksi tersebut, sehingga tugas dari otoritas, dalam hal ini otoritas keagamaan, adalah membangun kesadaran yang baik dari masyarakat muslim, termasuk kelas menengah muslim, akan kerentanan keberislaman mereka bisa disusupi agenda politik identitas yang brutal.

Supriansyah
peneliti isu sosial dan perdamaian di Kindai Institute dan penggiat di Jaringan Gusdurian Banjarmasin

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...