logo

Sindiran Ustaz Tengku di Reuni 212: Soal Jalan Tol hingga Genderuwo

Sindiran Ustaz Tengku di Reuni 212: Soal Jalan Tol hingga Genderuwo

DEMOKRASI - Ustaz Tengku Zulkarnain menyampaikan ceramah di depan massa peserta Reuni 212. Ustaz Tengku pun memberikan sindiran kepada pemerintahan Jokowi, katanya jika hanya membangun jalan penjajah Belanda pun membikin jalan.

"Kadang ada orang melintir, tahu melintir? Mulutnya melintir, akalnya melintir, karena dia memang setiap hari tukang pelintir. Katanya Indonesia itu kalau bikin jalan, penjajah Belanda pun bikin jalan, betul? Dari Anyer sampai Panarukan penjajah Belanda betul?" kata Ustaz Tengku dalam ceramahnya.

Ustaz Tengku menegaskan, Indonesia merdeka dari penjajah bukan agar dapat membuat jalanan. Dia lalu menyindir harga jalan tol yang mahal.

"Kita mau merdeka supaya bisa bikin jalan, apalagi bikin jalan tol bayar mahal. Bikin jalan tol 14 kilometer mahal bayarnya sudah sombong. Belanda bikin 1.000 kilometer tenang-tenang saja," ujarnya.

Ustaz Tengku melanjutkan sindirannya, tidak hanya jalanan, Indonesia merdeka bukan agar bisa membangun infrastruktur seperti pelabuhan dan bandara. Penjajah Belanda juga banyak membangun pelabuhan dan bandara.

"Ada yang bangun satu (bandara) di Jawa Barat sudah jadi tempat genderuwo kawin, nggak ada kapal terbang mau turun situ, akhirnya lahirlah anak si genderuwo namanya si Sontoloyo," tuturnya.

"Kita mau merdeka bukan untuk bangun jalan, bukan untuk bangun pelabuhan saja, bukan untuk bangun lapangan terbang, lebih dari itu. Kita mau merdeka supaya negara Indonesia merdeka, bebas menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, betul?," lanjutnya.

Menurut Ustaz Tengku, di antara tujuan Indonesia merdeka telah tertulis di Undang-Undang Dasar 1945, yaitu negara yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa.

"Maka tidak boleh kebijaksanaan negara ataupun kebijaksanaan personal atau pribadi-pribadi, yang melawan agama," ucapnya.

Di awal sambutannya, Ustaz Tengku berpesan khususnya kepada generasi muda yang memikul tanggung jawab menjaga NKRI sampai hari kiamat. Namun bukan sembarang NKRI yang harus dipertahankan generasi muda.

"Kita tidak mau NKRI yang menghalalkan homoseks, betul? Kita tidak mau NKRI yang menghalalkan lesbian, betul? Kita tidak mau Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bejat, betul? Kita mau NKRI yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur," paparnya.

Bawaslu sebelumnya memperingatkan agar tidak ada unsur kampanye dalam reuni 212. Bawaslu mengatakan kampanye tidak boleh dilakukan, baik oleh peserta maupun panitia acara.Selain itu, peserta atau panitia reuni 212 dilarang menghina atau menyampaikan ujaran kebencian kepada capres dan cawapres 2019.

SUMBER © DEMOKRASI.CO
Loading...

Komentar Pembaca

loading...